DetikNews
Sabtu 03 Juni 2017, 02:38 WIB

Geliat Islamic Center di Eks Lokalisasi Kramat Tunggak Saat Ramadan

Jabbar Ramdhani - detikNews
Geliat Islamic Center di Eks Lokalisasi Kramat Tunggak Saat Ramadan Islamic Center. Foto: Jabar Ramdhani/detikcom
Jakarta - Sudah sejak 1999 Masjid Jakarta Islamic Center (JIC) berdiri di bekas lahan yang dulunya adalah eks lokalisasi Kramat Tunggak. Para pengurus masjid hingga kini tak lelah membina warga agar tak jatuh lembah hitam lagi.

Adalah H Rakhmad Zailani Kiki yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan JIC mengatakan, saat awal masjid ini berdiri, yang diupayakan adalah membuat masjid ramai dikunjungi. Dalam kesempatan yang sama, kegiatan di masjid pun ikut diramaikan.

H Rakhmad Zailani Kiki bicara tentang Islamic Center. Foto: Jabar Ramdhani/detikcom

Menurutnya, hal itu dilakukan dengan jalan melibatkan masjid-masjid yang ada di sekitar JIC. Selain itu juga mengajak komunitas-komunitas dan masyarakat untuk berkegiatan di dalam JIC.

"Upaya kita dengan melibatkan masjid-masjid, melibatkan komunitas. Jadi divisi-divisi kita dorong untuk memperbanyak komunitas. Kalau tidak banyak komunitas, menjadi sulit bagi masjid ini untuk makmur. Jadi melibatkan lembaga pendidikan masyarakat yang mereka dapat banyak memiliki tempat untuk buat acara. Ini gratis bagi masyarakat," paparnya.

Kiki yang sudah sejak 2006 menjadi pengurus masjid, menambahkan, kini masyarakat pun ramai mendatangi JIC. Di antara mereka juga kerap mem-booking ruang-ruang yang dipunyai JIC untuk menggelar kegiatan.

"Kalau Ramadan biasanya buat pesantren kilat. Kalau Syawal jadi tempat halal bihalal. Jadi masyarakat tahu, jadi ini ramai. Kalau ada kegiatan sekolah, kegiatan seminar mereka buat di sini juga. Hanya mereka yang pakai di sini harus punya visi dan misi yang sama dengan JIC," ujar dia.

Perpustakaan.Perpustakaan. Foto: Jabar Ramdhani/detikcom

Kegiatan-kegiatan ini terus dihidupkan. Termasuk juga dari non keagamaan seperti Palang Merah Indonesia (PMI) diperbolehkan menggelar donor darah di JIC. Kiki mengatakan, hal ini sesuai dengan tujuan awal dibangunnya JIC. Sejak awal JIC dibangun, ada satu tujuan atas kehadirannya yaitu mengubah 'tanah hitam' menjadi 'tanah putih'.

"Jadi konsepnya dari kegelapan menuju cahaya atau 'minal dzulumaati ila an-nuur'. Dari tanah haram jadah jadi sajadah. Dari tempat maksiat menuju tempat ibadah," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, di tempat JIC berdiri, sejak tahun 1970 tanah ini menjadi lokasi resosialisasi (lokres) wanita tuna susila (WTS) Kramat Tunggak. Sempat ada sekitar 2000-an WTS yang menjajakan diri di sana.

Kondisi ini membuat Kramat Tunggak begitu terkenal bahkan dianggap sebagai lokalisasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara saat itu. Hingga kemudian, atas permintaan para ulama dan kajian peneliti, lokasi ini ditutup oleh Gubernur Sutiyoso di tahun 1999.

"Alhamdulillah prosesnya tidak ada gejolak. Padahal di sini kan ada ribuan pelacur dan juga germo. Memang Bang Yos punya program-program lebih dahulu. Pelacur dibekali kemampuan nyalon dan kegiatan ekonomi lainnya," ucap dia.
Interior dalam masjid di Islamic Center.Interior dalam masjid di Islamic Center. Foto: Jabar Ramdhani/detikcom

"Beliau ini, menurut saya, gubernur berhasil lah. Karena walaupun ada ribuan pelacur, tapi bisa ditutup tanpa gejolak. Beliau sempat dilempar rumahnya pakai molotov dua kali. Dia ceritakan itu. Mungkin dari orang yang tidak setuju dengan penutupan Kramat Tunggak waktu itu," lanjut Kiki.

Menjelang penutupan hingga setelah JIC berdiri, banyak di antara WTS yang kembali ke kampung halamannya. Sementara bagi mereka yang sudah bermukim di sekitar lokasi, kembali membaur dan melakukan kegiatan bersama masyarakat lainnya.

Setelah ditutup, pembangunan masjid mulai dilakukan 2001 dan diresmikan pada 4 Maret 2003. Organisasi JIC pun ditetapkan berdasarkan SK Gubernur KDKI Jakarta Nomor 99/2003. Kemudian, pihak JIC pun ikut memberikan pembinaan kepada WTS dan germo Kramat Tunggak. Pembinaan mental spiritual kepada mereka tidak dilakukan secara khusus, hal ini untuk mempermudah proses mereka dalam memperbaiki mental mereka.

"Untuk pembinaan rohani, kami tidak diskriminatif. Ketika mereka hadir, tidak diberikan perbedaan dengan jamaah lainnya. Karena kalau dipisahkan nanti kan malah jadi beban moral mereka. Dan kita tidak ingin masyarakat mengetahuinya. Itu kita coba hormati. Bagaimana pun orang punya harga diri, punya malu. Itu yang kita jaga," kata Kiki.

"Dulu ada Masjid At Taubah. Itu tempat pelacur pada ngaji. Di sana tempat pembinaan mental spiritual mereka sebelum JIC berdiri. Jadi ada yang dahulu melacur, sekarang mengaji," sambungnya.

Kiki mengatakan pada saat itu mereka yang dahulu bekerja di Kramat Tunggak pun diajak bekerja di dalam JIC.

"Pada tahun 2003 ketika JIC baru didirikan, pihak pengelola juga mengajak mereka yang dahulu kerja di sini. Ada beberapa mantan pelacur sini ada yang dipekerjaan jadi cleaning servis, office girl. Dulu ada juga satpam yang kerja di sini, dijadikan satpam juga," tuturnya.

Kiki berharap tidak ada lagi lokalisasi yang kembali didirikan. Sebab, lokasi tersebut tidak ada manfaat sosialnya.

"Jangan sampai sejarah terulang kembali. Jangan ada wacana membuka tempat seperti itu. Jangan lagi ada konsep seperti itu karena gagal, sudah terbukti. Apa manfaat sosialnya? Yang ada justru lebih banyak mudaratnya," ujar dia.

JIC berdiri di atas tanah seluas 11 hektare. Selain masjid, di dalam kompleks ini juga ada lembaga pendidikan Alquran, perpustakaan, wisma dan kantor pengurus.

Sejak awal didirikan, JIC memiliki visi misi untuk menjadi pusat peradaban Islam. JIC akan mewujudkan pusat pengembangan sumber daya muslim, pengkajian, data dan informasi serta budaya Islam di Jakarta yang bertaraf internasional. Selain itu juga mewujudkan pusat pengembangan Islam Jakarta sebagai landmark dengan sosok fisik yang monumental, bernuansa Islami di mana masjid sebagai pusatnya.

Perpustakaan Islamic Center di Kramat Tunggak.Perpustakaan Islamic Center di Kramat Tunggak. Foto: Jabar Ramdhani/detikcom
Penutupan Kramat Tunggak pun mendapatkan respons positif dari masyarakat sekitar. Masyarakat juga berterima kasih dengan adanya JIC yang menurunkan kemaksiatan dan kriminalitas di kawasan Koja.

"Masyarakat bersyukur. Istri yang punya suami sudah tidak cemas. Mereka yang punya anak juga tidak takut terpengaruh. Tingkat kriminalitas menurun. Yang datang ke sini kan bukan orang baik. Dulu saya dengar ada pembunuhan di sini, ada orang mabok, sewa pelacur tidak bayar. Lalu dibunuh. Ini kan menimbulkan kerawanan sosial," ucap Kiki.

Kondisi di JIC semakin baik setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan Perda nomor 11/2014 tentang Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta. Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Gubernu DKI Jakarta memberikan payung hukum kepada JIC agar mendapatkan anggaran langsung dari APBD.

"Tahun 2014, mendapatkan SK Perda. Karena ini Perda yang lahir agar JIC punya payung hukum. Agar JIC mendapatkan dana langsung dari APBD. Tidak hibah lagi," tuturnya.

JIC pun saat ini menjadi percontohan pusat perkembangan Islam di kota-kota lain di Indonesia. Lalu didirikan Forum Komunikasi Kerja Sama Islamic Center Indonesia.

"JIC ini jadi role model. Jadi tolak ukur. Jadi kalau orang mau bikin Islamic Center, datangnya ke sini. Termasuk NTB kemarin yang mau buat Islamic Center datang ke sini. Jadi sudah banyak yang datang ke sini dari Sumatera dan Sulawesi juga," ucap dia.
(nwk/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed