DetikNews
Jumat 02 Juni 2017, 12:44 WIB

Kemlu Sayangkan Keputusan AS Mundur dari Kesepakatan Iklim Paris

Heldania Ultri Lubis - detikNews
Kemlu Sayangkan Keputusan AS Mundur dari Kesepakatan Iklim Paris Juru Bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir (Tata). (Foto: Ari Saputra/detikcom).
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan negaranya mundur dari kesepakatan iklim Paris 2015. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menilai keputusan tersebut tidak sejalan dengan komitmen internasional.

"Tentunya keputusan itu tidak sejalan dengan komitmen internasional mengenai dampak negatif perubahan iklim di dunia," ujar Juru Bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir (Tata) di kantor Kemenlu, Jalan Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (2/6/2017).

Tata menyatakan, Indonesia meyakini bahwa perubahan iklim adalah sebuah tantangan yang dihadapi secara global. Oleh karena itu, penanganan nya pun membutuhkan kerja sama dari semua pihak.

"Perubahan iklim ini adalah tantangan yang membutuhkan kerjasama dan kontribusi dari semua pihak. Baik dari negara maju maupun negara berkembang, hal itu sesuai dengan prinsip yang telah disepakati secara global," kata Tata.


Trump menyebut keputusannya menarik diri dari paris agreement didasari pada keinginan untuk tidak merugikan dunia usaha dan pekerja AS. Meskipun cukup kecewa atas keputusan tersebut, Tata memastikan posisi Indonesia tetap berkomitmen menjadi bagian dari solusi perubahan iklim dunia.

"Indonesia tetap berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi mengatasi perubahan iklim yang saat ini kita rasakan bersama," tegasnya.

Seperti diketahui, Trump menyatakan AS akan menarik diri dari kesepakatan Paris soal perubahan iklim. Keputusannya ini memicu kecaman global juga kritikan di dalam negeri.

Dia menegaskan, AS akan berhenti menerapkan kesepakatan yang telah ditandatangani 195 negara itu, yang disebutnya sebagai 'kesepakatan buruk'. Trump berulang kali menyebut kesepakatan yang ditandatangani pada era Presiden Barack Obama itu, sebagai kesepakatan yang tidak 'menempatkan Amerika sebagai yang terutama' dan terlalu lunak terhadap rival ekonomi AS seperti China, India juga Eropa.

"Saya tidak bisa, sesuai hati nurani, mendukung kesepakatan yang menghukum Amerika Serikat," sebut Trump seperti dilansir AFP, Jumat (2/7).
(hld/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed