Goenawan Mohamad: Pancasila Dibentuk dengan Percakapan

Goenawan Mohamad: Pancasila Dibentuk dengan Percakapan

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 02 Jun 2017 00:08 WIB
Goenawan Mohamad: Pancasila Dibentuk dengan Percakapan
Foto: Goenawan Mohamad/Danu Damarjati-detikcom
Jakarta - Hari lahir Pancasila 2017 begitu istimewa. Presiden Jokowi menjadikannya hari libur, upacara peringatan digelar, dan Pancasila dibicarakan banyak orang. Untuk hari selanjutnya, Pancasila tak boleh berhenti dibicarakan.

Kuliah Umum 'Pancasila dan Sejarah' dengan pembicara jurnalis senior dan budayawan Goenawan Mohamad digelar di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (1/6/2017) malam. Dalam paparannya, Goenawan menyebut Pancasila lahir bukan dari pemikiran individual satu orang saja.

"Pancasila tidak bisa dilepaskan dari pidato 'Lahirnya Pancasila': sebuah gagasan yang bukan formula yang rapi, dan ditawarkan dan dibentuk dengan percakapan," tutur Goenawan dari mimbarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Epistemologi Pancasila bukan berdasar 'aku berpikir', melainkan 'kami yang membuka percakapan'," imbuhnya.

Pancasila adalah saripati kearifan lokal praktis masyarakat Indonesia. Orang-orang di negeri khatulistiwa ini mempunyai prinsip gotong royong yang kuat. Presiden pertama RI Sukarno menyadari hal ini, dan dia merumuskannya, namun proses perumusan juga tak sendirian.

"Teks 'Lahirnya Pancasila' tersusun dari presentasi lisan, dalam sebuah pidato yang tanpa persiapan tertulis. Ia praktis terbentuk secara interaktif dengan hadirinnya--sekitar 60 orang--di ruang tertutup di Jalan Pejambon Nomor 6. Dokumen yang berwujud rekaman ini lebih berupa sebuah percakapan ketimbang sebuah komposisi," tutur Goenawan.

Presentasi ini diselingi dengan pemutaran rekaman pidato Bung Karno. Terdengar suara tepuk tangan sebagai suara latarnya. Goenawan menyebut pidato ini menggunakan 'nada dasar yang penuh harapan', meski telah dijajah kolonialisme. Dalam suasana ini, musyawarah terjadi sehingga lahirnya Pancasila.

Tahun berganti, rezim berganti. Saat Orde Baru, tradisi dialog yang menghidupi Pancasila itu hilang. Pancasila bukan lagi sesuatu yang dialogis, melainkan berubah menjadi ideologi dalam artian yang kaku. Atau lebih tepat lagi, Pancasila menjadi doktrin. Padahal suasana inilah yang berbahaya bagi lestarinya falsafah bangsa, pandangan dunia orang Indonesia.

"Dunia bukan sebuah bangunan yang selesai dan mandek, begitu pula pandangan tentangnya. Pancasila akan mati jika dia dijadikan doktrin yang represif, seperti di masa Orde Baru dulu. Disebut di atas, bahwa dasar Pancasila adalah community-based epistemology. Ia menampik monolog dan jawaban yang mengklaim diri mutlak dan final," tutur Goenawan.

Goenawan Mohamad: Pancasila Dibentuk dengan PercakapanFoto: Goenawan Mohamad/Danu Damarjati-detikcom

Diskusi digelar, tema-tema yang mendominasi bahasan adalah relasi Pancasila dengan agama. Salah seorang peserta diskusi mengungkapkan sejarah Benua Eropa di Abad Pertengahan, yang masuk ke era kegelapan karena doktrin agama yang represif dijadikan alat kekuasaan.

Terlepas dari penjelasan Goenawan dan jalannya diskusi acara ini, falsafah yang membeku jadi doktrin juga bisa menjadi alat penindas rezim penguasa. Maka dari itu, secara akal sehat, Pancasila tak boleh dibiarkan membeku, mengeras, membatu, dan berbahaya bila menimpa orang. Dia harus senantiasa cair dan menghidupi.

Agama ketika ditafsirkan untuk politik bisa berisiko menjadi ideologi yang sifatnya instrumental belaka seturut yang dikehendaki penguasa. Sama halnya dengan filsafat bangsa, bila dibekukan menjadi ideologi maka bisa menjadi instrumen belaka. Namun Pancasila dalam bentuk ideologis bukanlah beku, Pancasila adalah ideologi terbuka yang diyakini kebenarannya bakal relevan seterusnya, apapun zamannya.

Kini Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangai Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), pada 19 Mei lalu. Pihak Kepresidenan optimis UKP-PIP bakal lebih inovatif ketimbang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) era Orde Baru lampau.

Goenawan menyatakan potensi Pancasila menjadi instrumen keras negara bakal tergantung faktor yang mendukung. Pancasila di era Orde Baru dicitrakan represif karena dulu militer sangat berkuasa. Goenawan menyatakan suasana seperti itu tak akan mudah terulang.

"Untuk dihidupkan seperti itu lagi kan nggak mungkin. Tapi memang kalau Pancasila-nya jadi ajaran mati ya akan seperti dulu," tuturnya kepada detikcom usai kuliah umum berakhir.

Dia berharap UKP-PIP benar-benar tak sama dengan P4 zaman dulu. Kalau Pancasila cuma jadi sekadar hapalan belaka, maka itu bukanlah kondisi yang ideal. (dnu/ams)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads