"Saudara-saudara! 'Dasar-dasar Negara' telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. (...) Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa--namanya ialah Pancasila," kata Sukarno seperti dikutip dalam buku Kumpulan Pidato BPUPKI yang diterbitkan Media Pressindo pada 2006.
Sukarno tak menjabarkan tentang Panca Dharma yang disebutnya dalam pidato itu. Selain dia, Soepomo yang berpidato sehari sebelumnya juga menyebut tentang Panca Dharma.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun tak menyebutkan Panca Dharma yang dimaksud itu berasal dari mana. Dia hanya melanjutkan kata-katanya bahwa Indonesia merupakan bagian dari wilayah Asia Timur.
"Negara Indonesia yang terbentuk atas aliran pikiran persatuan yang saya uraikan tadi pun akan dapat menjalankan dharmanya (kewajibannya) dengan semestinya sebagai anggota daripada kekeluargaan Asia Timur Raya," kata Soepomo.
Dalam buku 'Negara Paripurna', Yudi Latif menulis bahwa yang dimaksud Panca Dharma merujuk pada 5 pedoman hidup Chuo Sangi-In. Lembaga itu merupakan bentukan Sukarno dan Hatta guna merebut kepercayaan Jepang pada tahun 1943.
"Kita baru saja diizinkan menyanyikan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, pada setiap pertemuan. Kita baru saja diizinkan mengibarkan bendera kita Sang Merah Putih yang keramat itu berdampingan dengan bendera Jepang. Kita baru saja diizinkan membentuk Chuo Sangi In, sebuah badan sipil Indonesia, yang bertindak sebagai penasihat Pemerintah Militer Jepang," kata Sukarno seperti dituturkan kepada Cindy Adams dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Chuo Sangi In berkantor di bekas gedung Volksraad atau semacam lembaga legislatif buatan pemerintahan kolonial Belanda. Gedung itu pula yang kemudian menjadi ruang rapat BPUPKI sehingga kini diberi nama Gedung Pancasila.
Lalu apakah ada beda antara Panca Dharma dengan Pancasila? Berikut kutipan isi Panca Dharma seperti ditulis Yudi Latif dalam buku Negara Paripurna:
1. Kita bersama-sama dengan bangsa lain di Asia Timur Raya adalah sekutu yang sehidup semati dengan Jepang
2. Kita akan mendirikan negara Indonesia Merdeka, yang makmur, bersatu, berdaulat dan adil, dengan penuh penghormatan atas jasa/bantuan Jepang dan tetap menjadi anggota persemakmuran
3. Kita akan berusaha untuk memajukan moralitas yang tinggi dan kebudayaan kita
4. Kita akan mengabdi kepada negara dan rakyat dengan seluruh kekuatan kita dan bertaqwa kepada Allah
5. Berdasarkan prinsip Hakkoo Itjiu, kita akan berjuang membangun perdamaian abadi (bpn/imk)