Kegiatan tadarus itu berlangsung di Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumatera Utara (Sumut) di Medan, Jalan Sampul, Kamis (1/6/2017). Peserta tadarus mencapai 60 orang.
Ada 3 ruangan yang menjadi tempat membaca Alquran braille. Ketiga ruangan itu berjarak sekitar 10 meter. Peserta tadarus terdiri dari remaja hingga orang tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom). |
"Ini rutin setiap Kamis. Namun, di bulan puasa ini kita ada khataman," kata Saiful.
Sejauh ini, peserta tadarus ada sekitar 60-an orang. Ada 3 pengajar Alquran braille. Kegiatan tersebut berawal dari minat mereka sendiri untuk membaca Alquran braille.
Tak hanya dari Medan, peserta tadarus juga ada yang berasal dari Deliserdang. Mereka datang dengan menggunakan becak motor. Sudah sekitar 10 tahun kegiatan tadarus ini berlangsung di sana.
Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom). |
"Peserta tadarus mendapat uang transportasi sebanyak Rp 20 ribu untuk ongkos becak motor. Untuk ongkos becak itu sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu," ujar Saiful.
"Jadi, kekurangan ongkos itu peserta yang menanggungnya. Untuk tenaga pengajar honornya Rp 75 ribu sekali mengajar," lanjutnya.
Saiful menerangkan, sejauh ini dana tersebut diperoleh dari donatur. Sementara, bantuan dari pemerintah setempat belum ada.
Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom). |
"Kendala kami di transport untuk peserta. Masih terbatas. Sebenarnya, banyak peminat peserta tadarus ini. Tapi, kita kendala di transport," tutur Saiful.
"Belum ada perhatian dari pemerintah setempat. Kita berharap pemerintah terlibat. Transportasi yang dibutuhkan. Kegiatan ini tujuannya kan untuk lebih memahami Alquran. Untuk saat ini, Alquran braille sudah mencukupi," sambung dia. (elz/elz)











































Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom).
Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom).
Foto: Baca Alquran Braille. (Jefris Santama/detikcom).