Melihat Toleransi di Kupang dari Ramainya Pusat Jajanan Ramadan

Melihat Toleransi di Kupang dari Ramainya Pusat Jajanan Ramadan

Petrus Ola - detikNews
Rabu, 31 Mei 2017 18:54 WIB
Melihat Toleransi di Kupang dari Ramainya Pusat Jajanan Ramadan
Penjual takjil di Kupang (Foto: Petrus Ola/detikcom)
Kupang - Bulan Puasa bagi umat muslim dimaknai sebagai bulan penuh berkah bagi para pedagang takjil di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di bulan penuh berkah ini, makanan dan minuman yang dijual para pedagang takjil laris manis diserbu pembeli untuk menu berbuka puasa.

Seorang penjaja takjil, Ibu Syaadiah mengatakan, omzet berjualan di bulan puasa tahun 2017 ini, dirasakan meningkat.

"Alhamdulillah berkah dalam bulan Ramadan ini. biasa rame mulai dari jam 12 siang tu bibi dong mulai keluar, orang dong datang belanja sampai sekarang ini, penghasilannya dalam sehari mencapai 2 juta rupiah," ujar Syaadiah kepada detikcom, Rabu(31/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pengunjung, Putri Valentina, mengatakan ini merupakan puasa pertamanya di Kota Kupang yang mayoritas penduduknya non muslim. Kendati demikian ia sangat bangga karena warga kupang dapat bersama menyediakan takjil tanpa melihat perbedaan yang ada.

"Ini membuktikan bahwa toleransi di Kota Kupang sangat tinggi dan cinta damai," kata Memey, wanita asal Manado.

Hal senada dikatakan Erwin Yuan, menurutnya para pedagang sangat membantu masyarakat yang ingin berbuka puasa bersama keluarga. Pasalnya semua makanan dan minuman yang disediakan dijamin halal.

Erwin berharap puasa tahun ini mendatangkan pahala sebanyak mungkin melalui kegiatan ibadah dan zakat.

"Ya kita semakin lebih mendalamkan iman kita, pahala kita. Ya pada intinya kita mencari kebaikan sebanyak banyaknya di bulan suci Ramadan ini," papar Erwin.
Saat Kaum Muslim dan Non Muslim di Kupang Berburu Takjil RamadanFoto: Petrus Ola/detikcom

Di kawasan Halte, depan Bank Mandiri dan Gereja Katedral Kupang dipadati ribuan warga yang berburu takjil untuk berbuka puasa. Tidak hanya warga yang beragama Islam saja tetapi yang non muslim pun ikut berburu jajanan. Ada yang membawa pulang takjil, ada pula yang langsung berbuka di lokasi tersebut.

Padatnya pengunjung mengakibatkan arus lalulintas cukup terhambat. Bahkan tak jarang terjadi antrean panjang kendaraan karena macet.

(try/try)


Berita Terkait