Pentingnya Analisis Awal Polisi dalam Penanganan Aksi Massa

Pentingnya Analisis Awal Polisi dalam Penanganan Aksi Massa

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 30 Mei 2017 13:05 WIB
Pentingnya Analisis Awal Polisi dalam Penanganan Aksi Massa
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -
Koordinator Staf Ahli Kapolri Irjen Iza Fadri mengingatkan pentingnya analisis awal polisi dalam menangani aksi massa. Iza mengingatkan analisa itu berguna untuk mengambil sikap tepat saat menghadapi demonstrasi.

Hal itu disampaikannya dalam seminar bertema 'Intervensi Proses Hukum dengan Menggunakan Mobilisasi Massa' di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dalam kesempatan itu, Iza juga mengajak para peserta seminar turut menganalisa bagaimana people power bisa terselenggara.

"Kita lihat dalam beberapa bulan terakhir ini sering terjadi mobilisasi massa mulai Aksi 412, Aksi 212, Aksi Lilin, Aksi Bakar Obor, Aksi Pro Ahok selama proses persidangan dan lain-lain," kata Iza di Auditorium PTIK Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (30/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini merupakan fenomena yang saat ini berkembang. Ada yang menyebutnya dengan sebutan people power atau mass power," sambung Iza.

Kemudian dia juga menjelaskan ada dua sifat kerumunan yaitu heterogen dan homogen. Kerumunan heterogen bercirikan anonim, memiliki latar belakang berbeda namun disatukan oleh satu tujuan.

"Contohnya kerumunan orang pada saat di pusat perbelanjaan atau antri di bioskop. Sedangkan kerumunan yang bersifat homogen cirinya memiliki daya ikat yang sangat kuat dalam waktu yang panjang. Contohnya komunitas, sekte, kasta dan lain-lain," jelas Iza.

Demo besar-besaran masuk dalam sifat kerumunan yang heterogen. Iza kemudian menerangkan terdapat tiga tahap terbentuknya kerumunan heterogen yang terdiri dari tahap anonimitas, penularan dan sugesti.

"Tahap anonimitas, orang bergabung dalam gerakan protes dan mulai kehilangan sensibilitas individunya. Kemampuan kritis terhadap isu yang digelorakan kemudian berkurang dan berubah menjadi semacam gairah yang meluap," ungkap Iza.

"Tahap penularan adalah emosi yang menyebar, memenuhi suasana yang tercipta dalam kerumunan. Pada saat ini individualitas mulai hilang. Tahap sugesti, orang-orang akan terbuka untuk mengikuti apa yang diucapkan secara berulang-ulang oleh pemimpin kerumunan," lanjut Iza.

Iza mengatakan dengan melakukan analisa maka personel kepolisian dapat mengambil sikap tepat saat menghadapi demonstrasi. Selain itu personel juga bisa melakukan langkah antisipasi.

"Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menjawab apakah dengan mobilisasi massa ini akan menimbulkan gangguan atau tidak. Apakah polisi bisa komunikasi dengan pemimpin kerumunan. Apa perlu penambahan personel," terang dia. (aud/ams)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads