"Ya itu mungkin ya, karena cuaca dingin dan ada juga yang agak-agak berkesan dari pesaing kita, dia salut dengan Indonesia, kok menembak hebat sekali, rata-rata kita yang mendapat terbaiknya di sana," kata Woli di Aula Serba Guna, Mabes AD, Jalan Veteran Nomor 5, Jakarta Pusat, Selasa (30/5/2017).
"Pada saat angin kencang, mereka menggunakan wind meter untuk mengukur kecepatan angin, sedangkan kita cukup mengambil rumput dari bawah, kita lempar ke atas, katanya kok begitu saja dengan cara seperti itu bisa cepat menembaknya, kita yang menggunakan yang canggih kurang bagus menembaknya begitu," lanjut Woli.
Woli bercerita, negara-negara pesaing bicara tentang kehebatan Indonesia menggunakan rumput untuk mengukur kecepatan angin. Menurut Woli, pesaing terberat adalah tuan rumah yakni Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Woli mengatakan, perbedaan cuaca antara Indonesia dengan Australia juga menjadi tantangan bagi kontingen dalam ajang itu. Namun, mereka berhasil melewatinya.
"Mungkin yang agak sulit cuaca karena kalau di Indonesia itu kan kita biasa cuaca cukup panas 27 derajat, 29 derajat, sedangkan di Australia itu 4 sampai 10 derajat, jadi cukup dingin sehingga itu harus punya kiat-kiat khusus untuk mengatasi cuaca di sana," tuturnya.
Prajurit yang bertugas di Kostrad Depok ini mendapat hadiah rumah atas prestasinya sebagai anggota kontingen yang mendapat medali untuk kategori individual, 9 emas, 1 perak. Sedangkan pada kategori beregu, ia mendapatkan 6 emas, 1 Perak, dan 1 perunggu.
"Keberhasilan ini kebanggaan bagi kami karena kami bisa mewakili Indonesia untuk ajang internasional dan mencapai puncak yang tertinggi prestasi di AASAM ini," ujarnya. (cim/idh)











































