Masjid jami Abu Darda Pekanbaru, Riau, meriah saat Ramadan. Pengurus menyediakan takjil dan makan malam gratis. Juga ada aktivitas belajar tajwid dan menghafal 17 ayat pendek Alquran.
Masjid ini berlokasi di Jl Merak Sakti, Kecamatan Tampan, Pekanbaru. Persis di belakang Kantor Camat Tampan. Hanya berjarak sekitar 100 meter dari Jl Subrantas.
Masjid ini berdiri megah dengan kapasitas 3.500 jamaah. Baru dua tahun ini difungsikan sebagai aktivitas ibadah umat Islam. Luas bangunan masjid ini sekitar 50 m x 50 meter dan berlantai dua. Lantai dua diperuntukkan sebagai tempat salat perempuan.
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom |
Minggu (28/5/2017) pukul 17.00 WIB, saat detikcom berkunjung, panitia tampak mempersiapkan untuk berbuka. Di lantai bagian teras kiri dan kanan masjid sudah dibentangkan terpal berwarna biru. Tempat itu akan dijadikan untuk berbuka bersama. Para panitia dan sejumlah warga tampak mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan berbuka. Sejumlah air minum kemasan mulai disusun bersama takjil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi yang mau berbuka di sini bisa mendapatkan takjil dan makan sekaligus," kata Endrizal.
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom |
Ketika ditanya, donatur yang setiap hari menyediakan takjil dan makan malam itu, Endrizal tak bersedia menyebutkan. Menurut dia, ada donatur yang memang makanan dan minuman tersebut sebagai bentuk sedekah di bulan suci.
Selain soal takjil dan makan malam, Masjid Abu Darda juga jadi tujuan 700 orang belajar tajwid dan menghafal 17 ayat pendek Alquran. Mereka belajar usai salat Asar. Kategorinya bermacam-macam, sesuai kemampuan. Satu kelompok didampingi satu guru.
Jika kita datang ke sana saat 'santri' sedang belajar bersama, lantunan ayat Alquran menggema memenuhi ruangan masjid.
"Targetnya pada 17 Ramadan, mereka harus sudah bisa menghafal 17 surat pendek dengan fasih sesuai dengan tajwidnya. Dengan demikian, mereka juga bisa menjadi imam salat di daerahnya masing-masing dengan bacaan yang benar," kata Endrizal, Selasa (29/5/2017).
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom |
Mereka yang belajar tajwid ini, ada juga yang benar-benar dari nol. Malah ada yang sudah berusia di atas 60 tahun juga ingin belajar dari awal. Mereka bersemangat untuk bisa membaca Alquran sesuai dengan tajwidnya. Usai tak mengenal istilah terlambat untuk terus belajar.
"Banyak juga yang sudah tua-tua yang memang belajar dari nol. Mereka semangat, setiap hari belajar di sini," kata Endrizal.
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom |











































Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom