Sebagai petahana, Gus Ipul memiliki tingkat popularitas yang tinggi ketimbang penantangnya. Apalagi dia sudah dua kali menjabat wakil gubernur. Hal itu dikatakan oleh Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun.
Sebagai petahana, kata Rico, Gus Ipul memiliki jaringan dan event resmi yang secara tidak langsung berguna untuk sosialisasi dengan masyarakat. "Umumnya petahana lebih mudah juga mendapat tiket, Sebab lebih diunggulkan oleh partai-partai politik," kata Rico saat berbincang, Senin (29/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rico mengutip data pemilihan legislatif di Jawa Timur 2014 lalu yang menunjukkan secara berturut turut preferensi pemilih membagi masyarakat menjadi 3 bagian. Pertama pemilih partai nasionalis yang meliputi: PDIP, Gerindra, Golkar, Demokrat, NasDem yang mencapai 65 persen.
Kedua pemilih partai Islam koservatif yakni PKB dan PPP sekitar 24 persen. Ketiga, pemilih partai Islam inklusif dan modern sekitar 11,57 persen.
Melihat data tersebut, kata Rico, pertarungan Pilgub Jatim ke depan akan ditentukan oleh pasangan mana yang bisa mengambil tokoh dan ceruk nasionalis religius atau nasionalis sekuler. "Atau singkatnya tokoh-tokoh nasionalis" papar Rico.
"Misalnya, jika sementara tokoh seperti Khofifah Indar Parawansa maju bertarung melawan Gus Ipul ini berarti ceruk pemilih Islam sudah terbelah. Mereka akan butuh representasi figur tokoh nasionalis untuk menambah suara," Rico menjelaskan.
Jika terjadi Gus Ipul melawan Khofifah di Pilgub Jatim, maka figur-figur nasional non Nahdliyin seperti Tri Rismaharini bisa menjadi kuda hitam.
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny Januar Ali, Adjie Farabie mengatakan di Jatim saat ini memang ada tiga nama yang kuat. Mereka adalah Gus Ipul, Khofifah dan Risma. "Tiga nama ini tiga-tiganya punya kans. Saya pikir siapa yang mendapat tiket maju Pilkada tergantung dalam menjalin komunikasi politik dengan partai-partai," kata Adjie.
(erd/fdn)











































