Tapal Batas

Supaya Buaya Merauke Tak Habis Diburu Jadi Tas dan Dompet

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 28 Mei 2017 15:48 WIB
Buaya-buaya Merauke. (Hasan Al Habshy/detikcom)
Merauke - Kerajinan kulit buaya telah berkembang cukup lama di Merauke, kabupaten terdepan Indonesia yang berbatasan dengan Papua Nugini. Namun kerajinan ini masih mengandalkan bahan bakunya dari perburuan di alam liar.

Banyak produsen kerajinan kulit buaya di sini, jumlah yang dinaungi koperasi bentukan Pemerintah Kabupaten yakni 43 perusahaan kerajinan kulit buaya. Salah satunya 'Mas Kulit' yang punya galeri dan bengkel di Jalan Irian Seringgu Buti, Kelurahan Samkai, Merauke.

Sang pemilik, Bagus Prasetyo (Pras), ditemui di lokasi pada Kamis (11/5/2017), menjelaskan kepada detikcom soal proses mendapatkan kulit buaya hingga dibentuk menjadi tas atau sepatu.

[Gambas:Video 20detik]


Kulit buaya didapat bisa dari dua sumber, dari perusahaan penangkar yang tidak ada di Merauke dan dari perburuan di alam liar oleh masyarakat. Kebanyakan memang didapat dari perburuan oleh masyarakat.

"Kalau pas lagi susah mencari buayanya, belinya bisa Rp 65 ribu per inchi (dalam bentuk kulit). Kalau pas lagi banyak tangkapannya, kami bisa beli Rp 45 ribu per inchi dari masyarakat yang berburu," kata Pras di rumahnya ini.

Buaya-buaya itu tentu diburu bukan di wilayah perkotaan, melainkan di daerah pedalaman Merauke, di rawa-rawa, sungai, atau muara. Masyarakat lokal yang lebih mengerti medan biasa berburu buaya. Perburuan juga tak sembarangan.

Kepala buaya yang sudah disamak.Kepala buaya yang sudah disamak. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Sambil duduk di dekat buaya yang diawetkan, dia menjelaskan ukuran buaya yang diperbolehkan Pemerintah Kabupaten Merauke untuk diburu adalah 12 sampai dengan 20 inchi (ukuran perut). Pengrajin mendapat buaya sudah dalam bentuk kulit.

Bila mendapat kulit dari buaya ukuran 20 inchi, kulit itu bisa disulap menjadi dua tas. Namun seringnya, kulit didapat dari buaya ukuran 12 sampai 15 inchi.

Dalam satu bulan, pengrajin-pengrajin industri rumahan di Merauke membutuhkan lima lembar kulit buaya. Namun untuk 'Mas Kulit', Pras mengaku bisa menghabiskan 15 hingga 20 lembar, karena barang produksinya cukup banyak.

Cinderamata dari kulit buaya.Cinderamata dari kulit buaya. Foto: Hasan Al Habshy

Dimulailah proses penyamakan. Langkahnya adalah mencelup kulit buaya mentah ke dalam pelbagai larutan kimia. Bahan-bahan kimia dibeli dari luar Merauke, yakni dari Pulau Jawa atau bahkan dari luar negeri.

Rahmat Effendy (22) dari kerajinan kulit buaya 'Ajay Kulit' mengajak kami untuk melihat sekelumit proses yang harus dilalui kulit buaya sebelum menjadi dompet atau tas. Dia pergi ke bak semen, di dalamnya ada selembar kulit buaya lengkap dengan tonjolan-tonjolan dan motif khasnya. Kulit itu terendam larutan kimia.

"Ini harus pakai kaos tangan. Kalau tidak, kulit manusia bisa terkelupas," kata Rahmat mengenakan sarung tangan karet dan sepatu boots karet. Dia juga menunjukkan tabel larutan kimia di pojok ruangan. Ada 15 jenis bahan kimia.

Proses penyamakan kulit buaya.Proses penyamakan kulit buaya. Foto: Hasan Al Habshy

Diangkatlah kulit buaya itu, warnanya sudah membiru. Dikatakannya proses ini belum final, masih ada beberapa larutan lagi yang perlu digunakan si kulit untuk mandi.

"Ada obat untuk melemaskan kulit buaya, membersihkan sisik halusnya, membersihkan kulit dari daging. Paling bahannya itu asam formiat. Kalau kena tangan kita bisa melepuh. Itu fungsinya untuk melunakkan kulit, sampai tulang juga bisa jadi seperti spons," ujar Rahmat.

Kulit akan diinjak-injak atau memakai mesin supaya bahan kimia bekerja efektif. Setelah itu, barulah diangin-anginkan supaya kering. Tak perlu dijemur di bawah terik sinar matahari langsung karena cara itu malah bisa membuat kulit mengeras.

Rahmat adalah anak dari pemilik 'Ajay Kulit'. Dia juga mengurusi perusahaan ini. Dia tahu kulit-kulit buaya ini sering diantar oleh masyarakat mengendarai motor sampai ke rumahnya. Kulit-kulit buaya bahkan tak jarang didapat dari daerah yang jauh.

Proses pembuatan kulit buaya jadi tas.Proses pembuatan tas kulit buaya. Foto: Hasan Al Habshy

Kepala operasional 'Daniel Kulit', Kriswanto Elia (28) menjelaskan pasokan kulit buaya dipengaruhi oleh musim. Bila musim panas, persediaan bakal banyak dan lebih murah. Namun bila musim hujan, buaya susah didapat. Masyarakat biasa berburu di Rawa Biru, Kali Maro, hingga Kali Bian Kampung Domande Distrik Okaba.

"Bahan baku kami andalkan dari perburuan langsung, dari masyarakat," kata Kriswanto.

Pihak 'Daniel Kulit' membeli kulit mentah itu seharga Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per inchi dalam bentuk lembaran. Baru setelah itu, kulit diolah hingga menjadi produk senilai puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Kriswanto memperkirakan seluruh pengrajin di Merauke menghabiskan ribuan ekor buaya per tahun untuk menjalankan usaha. "Untuk di Merauke, nggak lebih dari 5.000 ekor buaya per tahun," kata dia.

Penangkaran Adalah Solusi

Muncul kekhawatiran, bila buaya terus menerus diburu, maka populasinya di alam liar bakal terganggu, dan ekosistem jadi ikut terpengaruh. Maka penangkaran buaya demi ketersediaan bahan kerajinan khas Merauke ini dinilai perlu segera terwujud. Pemerintah diharapkan juga bisa ikut membantu.

"Kita sih penginnya pemerintah bisa membantu membikin tempat penangkaran yang benar-benar khusus untuk pengrajin, karena kerajinan inilah yang ditonjolkan di kota kita. Cuma kita sekarang nggak pakai penangkaran," kata Pras.

Buaya yang dipelihara.Buaya yang dipelihara. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Pras kini memang memelihara 10 ekor buaya di rumahnya. Namun dinyatakannya ini bukanlah penangkaran, melainkan sekadar peliharaan saja, kecuali memang bila ukurannya sudah layak untuk dimanfaatkan suatu saat nanti. Dia menunjukkan, buaya ini berjenis buaya rawa dan buaya air asin.

"Kita antisipasi supaya buaya tidak menjadi langka. Karena di luar pengrajin ada yang mengambil (berburu di alam liar) juga, kadang-kadang ada kapal-kapal masuk ke pedalaman," ujar Pras sambil mengatur selang air mengguyur buaya.

Kriswantono dari 'Daniel Kulit' juga berpendapat sama. Perlu adanya penangkaran buaya untuk menjamin ketersediaan bahan baku.

"Kalau penangkaran, maka bisa unlimited," kata dia.

Dompet kulit buaya.Dompet kulit buaya. Foto: Hasan Al Habshy

Di setiap produk kulit buaya Merauke yang diakui pemerintah, terdapat stiker hologram bertuliskan 'Genuine and Certified Crocodile Leather, Produk Binaan BBKSDA Papua'. Bila ada hologram ini, produk kulit buaya dari Merauke tak bakal dicekal di bandara.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke, Yarman, menjelaskan kepada detikcom bahwa penangkaran adalah hal yang perlu.

"Penangkaran itu sangat diperlukan. Di Merauke sendiri pernah ada penangkaran, tetapi karena faktor makanan agak susah, jadi perusahaannya tidak bisa berkembang," kata Yarman.

Dia mengingat-ingat, terakhir ada penangkaran di Merauke sekitar 2003-2002 lampau. Kini tak ada penangkaran di Merauke, kecuali di tempat-tempat lain di Papua. Kelangsungan kegiatan penangkaran dia sadari tak mudah bila tanpa dukungan modal.

"Perlu, tapi siapa investor yang mendukung? Masalahnya penangkaran itu harus multi-usaha, ada peternakan ikan, ayam sebagai makanan buaya. Tidak hanya satu saja," ujar Yarman.

Tas golf dari kulit buaya.Tas golf dari kulit buaya. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Industri rumahan kerajinan kulit buaya di Merauke sudah ada sejak lebih dari dua dekade silam. Ada dua jenis buaya yang dimanfaatkan, buaya air tawar (Crocodylus novaeguinea) dan buaya muara (Crocodylus porosus). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, satwa itu adalah jenis yang dilindungi dan masuk Apendiks II CITES (saat ini tidak terancam punah namun bisa terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa diatur).

Namun ada pula SK Menteri Kehutanan Nomor 2827/Kpts-II/2002 Tentang Penetapan Buaya Air Tawar dan Buaya Muara Sebagai Satwa Buru di Provinsi Papua. Maka berdasarkan SK itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengeluarkan rekomendasi kuota yang ditjujukan ke Pemerintah terkait pemanfaatan buaya. Terbitlah aturan kuota pemanfaatan untuk pengusaha, penangkar, dan eksportir.

"Sistem pemanfaatan diatur dengan ketentuan, ukuran yang bisa diburu adalah 12 sampai 20 inchi. Agar kelestarian buaya di alam terjaga, ukuran di bawah 12 inchi supaya bisa berkembang dan di atas 20 inchi dapat menjadi indukan," tutur Yarman.

Salah satu toko yang menjual kerajinan kulit buaya di Merauke.Salah satu toko yang menjual kerajinan kulit buaya di Merauke. Foto: Hasan Al Habshy

Sejak Oktober 2014, Kepala Balai Besar KSDA Papua mengeluarkan izin pemanfaatan pengumpulan kulit buaya kepada CV Anugrah Maro Permai. Sejak 2017, ada CV Sedaro yang membina perusahaan-perusahaan pengrajin. Perusahaan swasta itulah yang akan memberikan kulit-kulit buruan kepada pengrajin yang tergabung dalam Koperasi Industri Kerajinan Rakyat Animha Merauke.

"Kuota kulit untuk kerajinan yang diberikan ke pengrajin yakni 1.800 lembar untuk Merauke dan 1.950 untuk Timika," kata Yarman. Selembar kulit berarti berasal dari seekor buaya.

Balai Besar KSDA Papua melakukan pengelolaan, dari menginventarisasi, membuat sembilan penangkaran di Papua, hingga mengatur kuota penangkaran dan pengambilan dari alam liar per tahun.

Simak terus cerita tentang daerah terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com! (dnu/tor)