Terdapat 13 tokoh yang terlibat dan hadir dalam acara ini yaitu Buya Syafi'i Maarif, Kardinal Julius R Darmaatmadja, KH Moh Quraish Shihab, KH Ahmad Mustofa Bisri, Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ida Bagus Agung, H Abdul Munir Mulkhan, Engkus Ruswana, Mohamad Sobary, Pdt Gomar Gultom, Bhikkhu Nyana Suryanadi, KH Imam Aziz dan Budi Suniarto.
Sedangkan penggagas forum ini adalah Jeirry Sumampouw, Defy Indiyanto Budiarto, Romo Benny Susetyo, dan Alissa Wahid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama semua elemen bangsa, khususnya pemerintah harus melakukan penyadara bagi semua pihak tentang pentibgnya persatua dalam indonesia yang bhinneka dan mendudukka pancasila sebagai kepribadian bangsa untuk semua generasi," seru Munir.
Kedua, pemerintah diminta harus bersikap tegas dan bijaksana dalam menanggapi situasi yang menjurus pada keretakan persatuan dan segera bertindak mengutamakan keselamatan bangsa dan negara. Selanjutnya, mereka menyerukan agar pemerintah harus memiliki sikap dan bahasa yang sama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup berbangsa dan bernegara.
"(Keempat) Pendidikan politik dan sejarah kebangsaan perlu dikuatkan kembali baik kepada para politisi maupun semua elemen bangsa demi keselamatan dan masa depan bangsa," tegas Munir.
Poin terakhir, mereka sepakat bahwa perlu dibangun persaudaraan sejati dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa.
"Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan semua agama mewajibkan penerimaan dan penghormatan kepada orang lain," pungkasnya. (sip/fdn)











































