DetikNews
Kamis 25 Mei 2017, 09:57 WIB

Pesan untuk Jaga Keutuhan dan Bangkit dari Luhut

Fajar Pratama - detikNews
Pesan untuk Jaga Keutuhan dan Bangkit dari Luhut Luhut Binsar Pandjaitan/Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
FOKUS BERITA: Bom di Kampung Melayu
Jakarta - Bom di Kampung Melayu menewaskan tiga anggota polisi yang tengah bertugas. Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta insiden ini dijadikan momentum untuk bangkit.

Bom dengan daya ledak kategori kuat itu meledak di sekitaran halte busway Kampung Melayu pada Rabu (24/5/2017) malam. Bom meledak dua kali sekitar pukul 21.00 WIB dan 21.05 WIB.

Lima orang tewas akibat bom ini. Terdiri dari tiga petugas polisi yang menjadi korban, dan dua orang pelaku bom bunuh diri. Selain itu, 10 orang lainnya mengalami luka-luka.

Lewat laman Facebook-nya, Luhut yang juga merupakan mantan Menko Polhukam ini angkat bicara mengenai insiden itu. Berikut tulisan lengkap Luhut:

Apakah pilkada Jakarta telah mengubah Indonesia menjadi radikal? Topik ini menjadi perhatian internasional. John Berisford, President of Standard and Poors Global Ratings (S&P), adalah salah satu yang menanyakannya langsung ketika kami bertemu di Washington bulan lalu.

Pertanyaan tersebut saya jawab dengan, "tidak!"

Saya kemudian menjelaskan bahwa strategi pembangunan pemerintah Indonesia tidak mengacu pada pertumbuhan ekonomi semata, tapi juga pada kesetaraan. Hal ini penting karena radikalisme adalah buah dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Contoh program pemerataan yang sudah dijalankan pemerintah adalah pendistribusian dana desa ke lebih dari 74.000 desa di seluruh Indonesia. Kesenjangan berhasil dikurangi, tapi pemerintah butuh uang untuk tetap terus menjalankannya.

Salah satu jalan mendapatkan uang adalah melalui investasi. Untuk dapat lebih dipercaya investor dunia, rating investment grade dari S&P menjadi penting untuk menurunkan cost of fund misalnya. Masalahnya, credit rating Indonesia bulan lalu masih BB+, hanya 1 notch di bawah investment grade.

Melihat kondisi ini, saya kemudian mengembalikan pertanyaan tersebut kepada John, "Jadi kalau kamu nggak kasih investment grade ke Indonesia, kamu sama saja membantu menghidupkan radikalisme di Indonesia."

Mendengar itu, John kontan terloncat sembari berkata, "Ok, I will evaluate."

Harus kita syukuri bahwa minggu lalu akhirnya Indonesia memperoleh investment grade dari S&P, pertama sejak zaman Orde Baru tahun 1996. Tidak hanya itu, transformasi Indonesia juga ditandai dengan cadangan devisa yang tembus di atas USD 124 miliar, tertinggi sepanjang sejarah Republik ini berdiri. Laporan keuangan pemerintah mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK, pertama sejak 2002. Tentu ini semua hasil kerja keras pemerintah Indonesia dan banyak pihak.

Satu hal yang sangat penting, dari John saya justru melihat bahwa orang asing saja bisa peduli dengan keutuhan Indonesia. Lantas bagaimana dengan kita sendiri?

Kita semua berduka dan menyesalkan terjadinya aksi teror di Kampung Melayu semalam. Tidak seharusnya sesama Warga Negara Indonesia justru saling menciderai.

Maka sebaiknya kita sama-sama menjaga agar kejadian serupa tidak terulang. Mari ikut berkontribusi dengan menciptakan keadilan di sekitar kita. Seperti saya sampaikan kepada para investor yang saya temui awal minggu ini, bahwa pengusaha jangan hanya sibuk memperkaya diri. Tapi buatlah program-program CSR yang memperbaiki pendidikan di sekitarnya dan membangkitkan ekonomi kecil dalam bentuk plasma-plasma. Tingkatkanlah penggunaan produk lokal dalam industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kecil dan menengah.

Jangan juga sebarkan berita-berita negatif lewat sosmed ataupun WA, tapi sebarkanlah confidence bahwa kita bisa menjadi Bangsa yang lebih baik.

Jika beberapa hari yang lalu kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, maka ini adalah saatnya kita benar-benar bangkit dengan mulai dari hal-hal kecil yang konkrit sesuai dengan kapasitas kita.
(fjp/fjp)
FOKUS BERITA: Bom di Kampung Melayu
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed