"Intensifikasi pengawasan pangan tahun 2017 akan sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini Badan POM juga akan membuka posko-posko pengaduan dan menempatkan mobil laboratorium keliling di beberapa titik mudik," Kepala BPOM Penny K Lukito kepada wartawan di gedung BPOM, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Rabu (24/5/2017).
Posko dan mobil lab keliling ini memudahkan warga melaporkan temuan pangan yang tidak memenuhi ketentuan. Aduan bisa terkait tanggal kedaluwarsa, kondisi produk serta izin edarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPOM menggelar jumpa pers hasil pengawasan jelang Ramadan, Rabu (24/5/2017) Foto: Samsdhuha Wildansyah-detikcom |
Terkait dengan pengawasan pangan jelang Ramadan, BPOM bersama pihak terkait melakukan razia pangan pada 15 Mei lalu. Pengawasan difokuskan pada pangan olahan tanpa izin edar (TIE), kedaluwarsa, dan rusak di sarana distribusi pangan.
BPOM menemukan ada 152.065 kemasan pangan yang tidak memenuhi ketentuan yang terdiri atas 74% pangan TIE, 23% pangan kedaluwarsa, dan 3% pangan dalam keadaan rusak.
Temuan pangan rusak banyak ditemukan di Jayapura, Padang, Bandung, Aceh, dan Manokwari dengan jenis produk mentega, ikan dalam kaleng, minuman berperisa, kecap dan susu kental manis.
BPOM menggelar jumpa pers hasil pengawasan jelang Ramadan, Rabu (24/5/2017) Foto: Samsdhuha Wildansyah-detikcom |
Temuan pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Manokwari, Jayapura, Samarinda, Ambon dan Denpasar dengan jenis produk mi instan, bahan tambahan pangan, biskuit, minuman serbuk, dan makanan ringan.
"Sementara untuk pangan TIE banyak ditemukan di Lampung, Palembang, Mataram, Batam, dan Kendari dengan jenis produk teh, garam, makanan ringan, biskuit, gula dan tepung," sebut Penny.
(fdn/tor)












































BPOM menggelar jumpa pers hasil pengawasan jelang Ramadan, Rabu (24/5/2017) Foto: Samsdhuha Wildansyah-detikcom
BPOM menggelar jumpa pers hasil pengawasan jelang Ramadan, Rabu (24/5/2017) Foto: Samsdhuha Wildansyah-detikcom