Seperti biasa, setiap Selasa, JK menyediakan sesi wawancara dengan jurnalis tentang isu-isu nasional yang hangat saat itu. Sementara biasanya wawancara dilakukan di kantor Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara, pada Selasa (23/5/2017) kemarin, tempatnya berpindah ke rumah dinas JK, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Perubahan tempat wawancara ini dilakukan karena JK harus menghadiri rapat di Istana Bogor bersama Presiden Jokowi hingga menjelang sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah tiba, JK, yang ditemani Sekretaris Wakil Presiden Mohammad Oemar, kemudian menuju ruangan belakang untuk melakukan wawancara. Ada sekitar 15 pertanyaan yang disiapkan jurnalis kepada JK. Pertanyaan-pertanyaan itu seputar hubungan dia dengan Jokowi, pencabutan permohonan banding Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kasus Habib Rizieq, hingga soal LGBT, Rapimnas Golkar, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Raut muka JK terlihat senang hari itu. Sebanyak 15 pertanyaan jurnalis ia jawab dengan lugas dan panjang. Sesekali dirinya juga mengoreksi pertanyaan wartawan untuk membenarkan data yang disampaikan.
"Jadi bukan Gubernur Surakarta, tetapi Jateng, ha-ha-ha.... Hati-hati wartawan ngomong salah sebut nanti dibilangin," kata JK mengoreksi pertanyaan seorang wartawan yang menyebutkan Sudirman Said akan maju dalam Pilkada Surakarta.
Raut muka JK yang senang itu menjadi bahan candaan jurnalis di sela-sela sesi wawancara. Sebelum melakukan tanya-jawab, JK mengakui sempat berbicara lama dengan Jokowi di Istana Bogor. Hampir sekitar 3 jam lamanya, Jokowi dan JK berbicara empat mata. Hal itu ia katakan saat menjawab pertanyaan soal hubungan dirinya dengan Jokowi dan isu-isu hoax yang mencoba mengadu domba keduanya.
"Hari ini saja saya makan sama-sama dua kali, rapat hanya ngomong berdua saja, 3 sampai 4 jam. Menghadiri acara dua kali di Istana Bogor lagi," tutur JK.
Lalu sampai pada pertanyaan tentang permintaan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) yang menginginkan kader Golkar mendampingi Jokowi pada 2019. JK mengatakan setuju bahwa Golkar menyiapkan kader terbaiknya. Namun JK mengingatkan, untuk menetapkan pendamping Jokowi pada 2019, biasanya itu melalui mekanisme koalisi partai.
"Tapi belum waktunya diajukan. Golkar perlu mengevaluasi kader yang cocok untuk itu. Yang jelas bukan saya," tutur JK.
Pernyataan JK membuat jurnalis tersenyum dan kaget mendengarnya. Hal ini membuat wartawan bertanya lebih lanjut tentang alasannya. "Kenapa Pak?" tanya wartawan.
"Saya kan mau istirahat setelah ini, pastilah itu ingin menikmati dengan cucu dan sebagainya," kata JK sambil tertawa.
Jika ditelusuri ke belakang, keinginan JK tidak lagi ikut-ikutan dalam kontestasi 2019 telah diketahui oleh seluruh keluarga dan orang-orang terdekatnya. Bahkan, sejak awal, Jokowi sudah mengetahui JK hanya akan menemaninya hingga 2019.
Juru bicara Wapres Husain Abdullah pun membenarkan keinginan JK tidak lagi mengikuti kontestasi politik 2019. Bahkan keinginan ini sudah ada sebelum Pilpres 2014.
"Kalau rencana tidak maju, memang sebelum tahun 2014 sudah ada. Secara konstitusi juga tidak mungkin. Apalagi sebagai wapres 2 kali," kata Husain saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (24/5). (tfq/erd)











































