Cerita Mahasiswi RI di Manchester soal Toleransi Warga Pascaledakan

Cerita Mahasiswi RI di Manchester soal Toleransi Warga Pascaledakan

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Selasa, 23 Mei 2017 20:30 WIB
Cerita Mahasiswi RI di Manchester soal Toleransi Warga Pascaledakan
Polisi berjaga usai ledakan/Foto: Reuters
Jakarta - Ledakan besar di Manchester Arena, Inggris, seusai konser penyanyi Ariana Grande masih menyisakan kengerian bagi warga setempat. Tak terkecuali mahasiswi Indonesia yang bersekolah di sana.

"Tercatat ada tiga WNI yang ikut nonton (konser). Tapi, alhamdulillah, aman semua. Cuma sampai sekarang masih ngeri, nih. Serumah memutuskan untuk di rumah semua," ungkap seorang mahasiswi RI yang mengambil program magister di University of Manchester, Fauzul Muna, kepada detikcom, Selasa (23/5/2017).

Muna sendiri merasa suasana kota tersebut masih mencekam. Sempat ada ancaman bom susulan di sebuah pusat perbelanjaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Barusan jam 11.00-an (GMT) ada indikasi bom di Manchester Arndale--mal paling besar se-Manchester. Semua orang dievakuasi, tapi nggak terbukti. Sekarang malnya sudah dibuka lagi," katanya.

Muna sempat khawatir peristiwa ini ditarik ke isu SARA. Terlebih ketika di dunia maya sudah mulai banyak kecaman terhadap ekstremis ISIS oleh netizen, baik dari dalam maupun luar Manchester.

"Aku mau ke lokasi kayaknya habis ini. Mau ke perpustakaan dekat situ, sekalian mampir," ujar Muna, yang juga mantan wartawati.

Fauzul Muna (Foto: dok. Instagram)Fauzul Muna (Foto: dok. Instagram) Foto: instagram Muna


Kekhawatirannya sedikit hilang karena warga setempat bersikap toleran. Banyak yang menawarkan perlindungan di rumah warga untuk orang-orang yang ada di dekat lokasi.

"Sejauh ini aku terenyuh juga sih sama sigapnya warga Manchester: nawarin room, tumpangan, taksi-taksi juga nawarin gratis," ungkap peraih gelar sarjana sosial dari Universitas Gadjah Mada tersebut.

Selain di dunia nyata, sikap toleran warga Manchester terlihat di media sosial. Bahkan ada imbauan untuk tak menciptakan stereotipe terhadap warga muslim.

"Di luar netizen ada yang ngeselin, (tapi) sejauh ini warga lokal Manchester oke banget. Bahkan di Twitter ada imbauan untuk nggak sebutin nama pelaku supaya nggak ada stereotipe ke kelompok tertentu," kata gadis asal Kudus, Jawa Tengah, tersebut. (bpn/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads