Kapolri: Ancaman Teroris RI Masih Ada karena Dinamika Timur Tengah

Kapolri: Ancaman Teroris RI Masih Ada karena Dinamika Timur Tengah

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 23 Mei 2017 17:55 WIB
Kapolri: Ancaman Teroris RI Masih Ada karena Dinamika Timur Tengah
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai teror dari kelompok Islam radikal masih menghantui Indonesia. Dia berujar pergerakan teroris Indonesia dipengaruhi oleh pergerakan kelompok radikal Islamiq State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah.

"Yang perlu menjadi atensi dalam kasus terorisme ini adalah ancaman masih terus berlangsung, terutama karena ada dinamika ISIS yang belum selesai di Timur Tengah, Suriah dan Irak," kata Tito dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III di gedung Nusantara II, kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (23/5/2017).

Kapolri menjelaskan ISIS kini semakin terpojok. Karena itu, kelompok tersebut melakukan desentralisasi dengan menyebar anggota-anggotanya ke negara lain untuk meneruskan operasi mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan tekanan-tekanan yang ada terhadap ISIS di Suriah dan Irak, baik oleh pemerintah Suriah, Irak, maupun Koalisi Barat dan Rusia, telah membuat apa yang disebut fenomena desentralisasi, yaitu adanya upaya-upaya mengekspor para pelaku ini ke luar negeri, ke daerah masing-masing, ke negara masing-masing, untuk melakukan operasi di daerah masing-masing," terang Tito.

Terkait desentralisasi, Tito menyampaikan, kelompok teroris yang paling perlu diwaspadai ialah Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Berdasarkan pengawasan polisi, JAD masih aktif meski hanya berpotensi melakukan serangan-serangan berskala kecil.

"Kemudian di Indonesia, yang paling utama adalah kelompok Ansharut Daulah. Ini yang menjadi fokus kita. Mereka masih tetap aktif meski serangan kecil. Dan sejumlah kasus ada yang berhasil mereka lakukan, ada juga yang berhasil dicegah dan berhasil ditangkap dengan operasi preventif dari Densus 88, BNPT, dan satgas BNPT," jelas Tito.

Tito menambahkan, berdasarkan data, total warga Indonesia yang diduga bergabung dengan ISIS berjumlah 600 orang. Setengah dari jumlah tersebut, kata Tito, sudah kembali ke Tanah Air. Sisanya meninggal dan sebagian berpindah ke Filipina Selatan.

"Kelompok-kelompok yang berangkat ke luar negeri totalnya hampir 600 orang. Hampir sebagian sudah kembali. Ada juga yang sudah meninggal. Sebagian kecil lagi mengalihkan tujuannya bukan ke Suriah, tapi ke Filipina Selatan, yang dianggap sebagai salah satu pecahan negara Islam Indonesia versi mereka sendiri," tutup Tito. (aud/ams)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads