"Ya itu warning juga ya buat seluruh masyarakat Indonesia dan dunia. Seketat itu di stadion Inggris itu pemeriksaan cukup ketat, tapi ternyata masuk juga kan," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/5/2017).
Karena itu, Rikwanto mengingatkan pengamanan dan penjagaan event-event keramaian masyarakat mesti benar-benar dilakukan. Sebab, tindakan teroris tidak mengenal tempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan konser musik di Indonesia, Rikwanto mengatakan pihaknya melakukan pengamanan khusus karena menjadi bagian dari prosedur operasional standar (SOP). Bahkan SOP itu diperketat lagi, seperti menggunakan metal detector dan pemeriksaan di semua pintu masuk.
"Jadi SOP-SOP untuk penjagaan itu kan berkembang terus. Setiap event itu pasti dievaluasi, pasti ada kekurangan, ada hal-hal yang memang terlewatkan. Ada hal-hal seperti kurang anggota yang dikaitkan dengan jumlah pengunjung. Semua dievaluasi, jadi tidak ada yang sempurna, setiap SOP jadi diterapkan terus," katanya.
Sejauh ini, sedikitnya 22 orang tewas dan 59 orang lainnya luka-luka akibat ledakan dalam konser Ariana Grande. Otoritas Inggris menyelidiki ledakan ini sebagai kasus terorisme.
Sedangkan sejumlah pejabat senior penegak hukum Amerika Serikat yang telah mendapatkan penjelasan dari otoritas Inggris mengungkapkan ledakan dipicu oleh bom bunuh diri dan jasad seorang pria yang diduga sebagai pelaku ditemukan di lokasi. (idh/fdn)











































