Berkaca dari 'The Wild One', Orang Tua Harus Perhatian ke Anak

Berkaca dari 'The Wild One', Orang Tua Harus Perhatian ke Anak

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Selasa, 23 Mei 2017 10:09 WIB
Berkaca dari The Wild One, Orang Tua Harus Perhatian ke Anak
Ilustrasi keluarga (thinkstock)
Jakarta - Terungkapnya pesta kaum gay di Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, kemarin, menghebohkan publik. Sebanyak 141 pria, 4 di antaranya WNA, kedapatan tengah berpesta dengan tema 'The Wild One' di ruko yang berkedok tempat fitness.

Peristiwa ini membuat para orang tua harus lebih waspada dalam mengawasi anak-anaknya. Perlu lebih sering mengecek kegiatan anak agar tak salah orientasi.

"Di fitness begitu kan banyak, makanya orang tua jangan merem terhadap kegiatan anaknya yang nge-gym. Memang lebih baik sedikit curiga, bertanya, ngecek, daripada selalu berpikir bahwa tempat gym itu memang tempat gym saja, kayak gitu. Kalau dulu itu hanya ada di klub-klub gym saja gay itu, sekarang bahkan tempat-tempat yang dominan laki-laki. Seperti masjid, musala, pesantren, terus sekolah-sekolah sejenis. Tempat seperti itu memang ngetemnya di situ, ini pengetahuan umum yang para orang tua wajib tahu," kata psikolog anak Tika Bisono saat berbincang dengan detikcom, Senin (22/5/2017) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tika mengatakan faktor ketidakharmonisan orang tua dengan anak dapat menjadi pemicu berubahnya orientasi seksual. Ia juga menyoroti faktor mental anak yang juga memberi kontribusi pada hal tersebut.

"Ya mungkin tadinya larinya untuk memang berolahraga, tapi kemudian ada komunitas tersebut yang menawarkan perhatian dan kasih sayang. Jadi rumah kedua, selesai. Apalagi orang itu kepribadiannya lemah, lembek, gampang dipengaruhi, nanti bisa terjebak," tuturnya.

Tika mengimbau masyarakat tidak selalu menyalahkan pengaruh dari luar terkait dengan perilaku negatif anak. Menurutnya, kekuatan pola asuh dari orang tua dapat membentuk mental dan karakter anak yang kuat sehingga terhindar dari perilaku negatif.

"Jadi anak-anak dengan pertahanan mental lemah ini bukan pilihan dia, tapi pola asuh orang tua. Dia menjadi lemah, maka pengaruh dari luar maka lebih besar potensi berhasil. Dan akhirnya membuat dia menjadi terpengaruh. Si anak dilengkapi dengan amunisi dan persenjataan sangat kuat atau tidak. Setiap kali anak kita hancur dianggap pasti dari luar. Banyak kok yang anak-anak kokoh saja menghadapi keruwetan dunia luar. Dia bisa memproteksi dirinya dan membuat keputusan yang tegas," ujarnya. (fdu/bag)


Berita Terkait