"Kalau anaknya berbakat, bagus, tapi dia tidak menerima KJP, bisa nggak dapat beasiswa? Bisa, ada jalan lain. Kita punya yayasan beasiswa yang akan diberikan, tapi berbeda dengan KJMU," ujar Djarot kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/5/2017).
Djarot juga mengimbau kepada warga yang mampu agar tidak berpura-pura menjadi orang tidak mampu demi mendapatkan KJMU. Sebab KJMU dan program sejenisnya merupakan program yang dikhususkan bagi warga yang membutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Djarot, mahasiswa yang mendapat KJMU tidak otomatis terus mendapatkan kartu tersebut hingga lulus. Sebab akan dilakukan evaluasi tiap tahun dengan berpatokan pada indeks prestasi kumulatif (IPK) untuk menentukan layak atau tidaknya mahasiswa tersebut tetap mendapatkan KJMU.
"Mereka yang mendapat KJMU tetap harus belajar. Evaluasinya satu tahun sekali, bagaimana dengan IPK. Kalau misalnya indeks prestasinya tidak baik, otomatis KJMU akan kita hentikan," imbuhnya.
Selain dari prestasi, evaluasi juga dilakukan dari perilaku mahasiswa. Jika mereka terlibat dalam hal-hal negatif, KJMU mereka akan dicabut.
"Kemudian juga ada evaluasi tentang bagaimana perilakunya. Kalau dia terlibat narkoba, tawuran, itu langsung kita cabut. Sifatnya adalah mendidik. Kita akan mendidik masyarakat, bukan memanjakan masyarakat," ujarnya. (nth/fdn)










































