DetikNews
Senin 22 Mei 2017, 10:10 WIB

Kendaraan Bawa Gas di KM Mutiara, Ini Aturan Bawa Muatan Berbahaya

Aditya Mardiastuti - detikNews
Kendaraan Bawa Gas di KM Mutiara, Ini Aturan Bawa Muatan Berbahaya Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Badan SAR Nasional (Basarnas) menyebut dugaan penyebab terbakarnya KM Mutiara Saantosa di perairan Masalembo, Sumenep, Madura, karena ledakan dari kendaraan yang diduga membawa gas. Dugaan ini belum final karena menunggu hasil investigasi KNKT.

Gas termasuk dalam muatan berbahaya atau dangerous good. Direktur Perkapalan dan Kelautan Kementerian Perhubungan Capt Rudiana menjelaskan aturan khusus untuk membawa muatan tersebut.



"Kalau untuk muatan berbahaya, dangerous good itu memang harus dipisahkan," ujar Rudiana saat berbincang, Minggu (21/5/2017) malam.

Rudiana menyebut jika membawa muatan berbahaya harus melaporkannya ke operator. Hal itu tertuang dalam konvensi internasional untuk keselamatan jiwa laut (SOLAS) 1974.

"Kalau membawa muatan berbahaya ini pertama pemilik barang harus melaporkan ke operator atau pembawa muatan itu, karena dikonvensi internasional untuk SOLAS 74 dan amandemennya itu diatur di bab 7 bahwa di peraturan 4 kalau muatan berbahaya itu harus diberi label dan marka bahwa itu muatan berbahaya sesuai kelas," beber dia.

Rudiana menjelaskan ada 9 kelas untuk membagi barang muatan berbahaya. Dari kelas 1 bahan peledak atau eksplosif, kelas 2 bahan dari gas yang dimanfaatkan kalau dicairkan dilarutkan atau dibawah tekanan, kelas 3 cairan yang mudah menyala, hingga kelas 6 yang dibagi zat beracun, dan zat yang menyebabkan infeksi.

Kemudian kelas 7 radio aktif, kelas 8 bahan yang bersifat korosif, dan 9 adalah bermacam-macam zat berbahaya yang dapat menimbulkan bahaya yang belum diatur kelas 1-8. Rudiana mengatakan bagi pihak yang tidak menaati aturan ini akan dijerat dengan pasal pidana.

"Sanksi itu berat, pidana itu harus dilaporkan ke polisi. Karena menimbulkan ledakan itu ada apa-apa, harusnya (barang muatan berbahaya) dikawal dan diawasi oleh polisi takutnya ada yang termasuk muatan berbahaya," urainya.

Rudiana menyampaikan pengangkutan barang muatan berbahaya harus dilakukan khusus. Muatan itu wajib dipisahkan dengan kapal penumpang.

"Itu penanganan khusus, kapal itu harus dipisahkan kalau muatan dibahas di peraturan 6 muatan berbahya harus dipisahkan dijauhkan dari akomodasi kru harus jauh," tegas Rudiana.

Rudiana mengaku belum bisa memastikan soal dugaan adanya muatan gas tersebut. Hingga saat ini pihaknya mengaku masih menunggu hasil invetigasi KNKT.

"Saya belum bisa memastikan, investigasi dari KNKT, apakah ada indikasi muatan berbahaya atau muatan gas, minyak saya belum tahu. Karena pihak saya belum bisa mengatakan muatan yang dimuat apakah kelalaian atau human error," kata Rudiana.
(ams/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed