"Sebenarnya buku ini adalah kumpulan catatan yang sayang dibuang. Andai boleh berharap, catatan-catatan yang terhimpun di buku ini semoga menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang, seberapapun kecilnya," kata Sudirman di Rumah Jawa, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (21/5/2017).
Buku itu berisi pemikiran, epigram, opini, wawancara hingga pidato Sudirman Said selama menjadi Menteri ESDM. Berkat dorongan koleganya, ketua tim sinkronisasi Anies-Sandi itu akhirnya memutuskan untuk membagikan hasil tulisannya itu ke dalam buku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudirman Said juga merasa berhutang pada negara dan kehormatan diberikan privilese yang belakangan mengubah total perjalanan hidupnya. Acara itu juga dihadiri oleh sejumlah tokoh diantaranya pimred Majalah Tempo Arif Zulkifli, pimred Harian Kompas Budiman Tanuredjo, Nur Pamudji, Edriana Noerdin, Bursag Zaenudi, Timbo Siahaan, Ferry Mursyidan, serta sejumlah rekan-rekan Sudirman lainnya.
Selain itu, Arif dan Budiman mengungkapkan beberapa bagian buku Sudirman yang menurut mereka paling menarik. Arif berpendapat tulisan yang menceritakan hubungan Sudirman dan ibunya merupakan bagian yang paling menarik.
"Saya mencatat ada beberapa hal yang patut dicatat dari buku ini yang menggambarkan hidup mas Sudirman Said. Yang saya sarankan untuk dibaca terlebih dahulu adalah tentang ibunya," kata Arif.
Sedangkan menurut Budiman, bagian yang menarik adalah bab dimana Sudirman menuliskan puisi-puisi yang pernah ditulis pada akun Twitternya. Budiman pun membacakan beberapa puisi yang ada di dalam buku tersebut.
Acara itu ditutup dengan sambutan-sambutan dan obrolan ringan yang diselingi tawa Sudirman bersama teman-temannya. Mereka mengenang perjalanan hidup mereka saat bersama Sudirman Said. (ams/lkw)











































