DetikNews
Sabtu 20 Mei 2017, 17:57 WIB

Refleksi Harkitnas Kekinian: Masa Sih Kita Tak Bisa Bersatu?

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Refleksi Harkitnas Kekinian: Masa Sih Kita Tak Bisa Bersatu? Semangat Hari Kebangkitan Nasional 2017 (Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom)
FOKUS BERITA: Semangat Harkitnas
Jakarta - Setiap tanggal 20 Mei kita selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas. Tak jarang peringatannya hanya sebatas ritual upacara semata.

Mulanya, Hari Kebangkitan Nasional dinamakan Kebangunan Nasional. Adalah Presiden pertama RI Sukarno yang mencetuskan adanya peringatan ini pada tahun 1948.

Waktu itu situasi nasional tengah bergolak, terutama ketika Belanda kembali dengan membonceng sekutu. Agresi militer Belanda yang pertama terjadi pada 1947 dan berbuntut perjanjian Renville yang diinisiasi Dewan Keamanan PBB.

Hasil dari perjanjian Renville adalah wilayah Indonesia hanya meliputi sebagian Jawa (Jawa Tengah dan Yogyakarta) dan Sumatera. Kelompok oposisi yang merupakan gabungan dari organisasi 'Sayap Kiri', Front Demokrasi Rakyat pimpinan Amir Sjarifudin, kian merongrong pemerintah.

"Tahun 1948, Bung Karno berinisiatif mengambil momentum lahirnya Budi Utomo sebagai simbolis. Waktu itu kira-kira Bung Karno bertanya-tanya, 'masa sih kita sebagai bangsa tak bisa bersatu padu?' sehingga ditetapkanlah hari tersebut," ujar sejarawan Dr Rushdy Hoesein saat berbincang dengan detikcom, Jumat (19/5/2017).

Budi Utomo dijadikan simbol pemersatu oleh Bung Karno juga berkat saran dari dua tokoh yang ikut berjuang waktu itu. Selain itu, Bung Karno juga melihat bahwa Budi Utomo berhasil lepas dari bayang-bayang kedaerahan menjadi organisasi nasional yang masif.

Budi Utomo memang bukan organisasi politik pertama yang dibentuk kaum pribumi pada waktu itu. Sebelumnya sudah ada Sarekat Dagang Islam yang dipimpin Haji Oemar Said Tjokroaminoto pada 1905. Ada pula organisasi bentukan tiga serangkai (Suwardi Suryaningrat, dr Tjiptomangunkusumo, dan Edward Douwes Dekker) yakni Indische Partij.

"Kalau dulu saja pendahulu kita bisa melepaskan sentimen kedaerahan dan golongan untuk bersatu, mengapa sekarang tidak bisa?" ungkap Rushdy.

[Gambas:Video 20detik]

Budi Utomo, kata Rushdy, telah membuktikan bahwa pola gerakan sporadis pengumpulan massa seperti pada Perang Aceh, Perang Jawa, sudah tidak relevan lagi ketika memasuki tahun 1900-an. Akhirnya sekumpulan pemuda membentuk organisasi Budi Utomo pada tahun 1908 yang bertujuan mendidik pemuda jajahan Belanda agar kemudian sadar akan pentingnya persatuan.

"Kalau kita mulai bangkit, kita harus sadar kalau kebangsaan lahir secara utuh. Tahun ini sangat momentum. Kan dengar pidato Presiden Jokowi, stop saling menjelekkan, stop saling menuduh, hujat, fitnah. Itu tujuannya mulia, kita satu bangsa kok masih bersikap, masih bertingkah seperti itu? Untuk apa semua itu?" tutur pria kelahiran tahun 1945 tersebut.

(bag/dkp)
FOKUS BERITA: Semangat Harkitnas
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed