Budi Utomo terbentuk pada 20 Mei 1908 oleh sekelompok pemuda yang berkuliah di STOVIA, Batavia (sekarang Jakarta). Pembentukan organisasi ini juga terinspirasi dari ceramah Wahidin Soedirohoesodo setahun sebelumnya tentang pentingnya menggalang dana untuk pendidikan bagi pemuda pandai yang tidak mampu.
Mulanya organisasi ini membatasi lingkupnya di Pulau Jawa dan Madura saja. Meski begitu, keberadaan Budi Utomo mendapat perhatian serius dari Pemerintahan Hindia Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom |
Berselang dua bulan saja sejak didirikan, anggota Budi Utomo sudah mencapai 650 orang. Padahal misi organisasi tersebut mulanya bukan untuk menggalang massa.
Sudah barang tentu hal ini juga membuat pihak sekolah yang berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda was-was. Walau ada politik etis pada masa itu, tetapi pemerintahan Belanda masih belum sepenuhnya merestui kalau orang pribumi membuat organisasi.
Suhartono Wiryopranoto menulis dalam 'Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya (2017)' bahwa pada masa kolonial, Belanda mengeluarkan regulasi yang disebut RR 111 (regeerings reglement). Pada regulasi itu tertulis tegas tentang larangan orang pribumi mendirikan organisasi politik.
Akan tetapi terbentuknya Budi Utomo bisa dibilang membuat kaget Belanda karena berhasil menembus celah dari aturan tersebut. Budi Utomo dinilai sebagai organisasi kultural, alih-alih gerakan politik oleh Belanda.
Meski akhirnya mendapat pengakuan dari Belanda pada 1909, tetapi kelahiran Budi Utomo sempat membuat STOVIA khawatir. Saking khawatirnya, pihak STOVIA hampir mengeluarkan Soetomo. Tetapi solidaritas para anggota Budi Utomo yang bersekolah di STOVIA membuat Soetomo urung dikeluarkan.
Budi Utomo (Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom) |
Soetomo memang dipilih menjadi ketua saat organisasi Budi Utomo dibentuk. Tetapi pada kongres pertamanya di Yogyakarta, posisi Soetomo diganti oleh Tirtokoesoemo yang kala itu merupakan Bupati Karanganyar.
Meski kemudian kepengurusan Budi Utomo diambil alih oleh 'golongan tua', tetapi misi tentang pendidikan tetap menjadi tujuan utama. Setelah kongres, Wahidin Soedirohoesodo menjadi wakil ketua.
"Berbeda jauh dengan Sarekat Islam yang menggalang massa, pergerakan Budi Utomo fokus pada pendidikan," kata sejarawan yang kini menjadi Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid, saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Menurut Hilmar, justru gerakan Budi Utomo lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran kolektif di masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Masyarakat dari berbagai latar belakang mulai dari buruh, petani, dan lainnya menjadi teredukasi.
"(Budi Utomo) Tak lagi perjuangannya memobilisasi untuk melawan penjajah, tapi meningkatkan taraf pendidikan orang pribumi agar pintar," ujar Hilmar.
Misi tentang pendidikan itu kemudian dituangkan dalam statuta organisasi dan Anggaran Rumah Tangga (Huishoudeijk Reglement) hasil kongres pertama pada Oktober 1908 di Yogyakarta. Aturan dasar organisasi Budi Utomo kemudian dimuat dalam surat kabar 'Retnodoemilah' pada 14 Oktober 1908.
Berikut kutipan statuta Budi Utomo yang masih menggunakan ejaan lama:
Statuten Moefakat "Boedijotama" di Kota Jogjakarta
Fasal 1
Moefakat ini dinamai "Boedijotama"; tempatnja ditetapkan di kota Jogjakarta
Fasal 2
Moeafakat ini boeat 29 tahoen lamanja; maksoednja mengadakan studiefonds akan menolong anak-anak bangsa boemi poetra di tanah Djawa, jang hendak melandjoetkan beladjar, akan tetapi tertengah oleh barang sesoeatoe alangan.
Dan lagi maksoed moefakat ini mengoesahakan djoega soepaja boemi poetra ditanah Djawa mengetahoei adat-istiadatnja
Fasal 3
Adapoen berdirinja moefakat ini dikoeatkan dengan oeang oeroenan jang tetap dari lid-lidnja dan dengan oeang-oeang soembangan.
Statuta organisasi kemudian dikuatkan oleh anggaran rumah tangga berikut:
Huishoudeijk Reglement Moefakat "Boedijotama" di Jaogjakarta
Fasal 1
Studiefonds terseboet dalam Statuten fasal 2 itoe maksoednja akan memberi pertoeloengan kepada anak-anak boemi poetra ditanah Djawa, jaitoe menilik jang tadjam fikiranja dan baik kelakoeannja akan tetapi tiada soerangpoen dari pada sanak soedaranja (yang wadjib) yang koeat memikoel dia peladjarannja, atau tiba-tiba mendapat alangan sehingga tiada ia dapat meneroeskan peladjarannja.
(bag/dnu)












































Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
Budi Utomo (Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom)