Seribuan Tukang Becak Tuntut Walikota Palembang Mundur
Kamis, 28 Apr 2005 19:24 WIB
Palembang -
Seribuan tukang becak dan pedagang kaki lima di Palembang berunjuk rasa menuntut Walikota Palembang Eddy Santana Putra untuk mundur, dan membubarkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).Tuntutan tersebut menyusul terbunuhnya seorang tukang becak dalam aksi penggusuran ribuan pedagang kaki lima di kawasan Jembatan Ampera dan Pasar 16 Ilir, Palembang beberapa waktu lalu.Dengan mengenderai becak dan berjalan kaki, seribuan penarik becak dan pedagang kaki lima yang didominasi kaum ibu ini turun ke jalan-jalan protokol. Akibatnya arus lalu lintas macet total.Mereka yang tergabung dari Barisan Rakyat untuk Keadilan (Barak) itu mendatangi Kantor Gubernur Sumatra Selatan di Jalan Kapten A Rivai dan mengepung Kantor Walikota Palembang di Jalan Merdeka.Gelombang unjuk rasa yang memacetkan Jalan Jenderal Sudirman itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB, Kamis (28/4/2005). Aparat kepolisian pun sibuk menertibkan massa.Aksi tersebut berkaitan dengan terbunuhnya seorang tukang becak bernama Sulaiman. Dia diduga ditusuk seorang petugas Satpol PP Kota Palembang sewaktu terjadi penggusuran besar-besaran terhadap pedagang kaki lima di Pasar 16 Ilir, Jalan Masjid Lama dan Jembatan Ampera, yang merupakan kebijakan Walikota Palembang Eddy Santana Putra."Kami minta Walikota Palembang Eddy Santana Putra bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan tersebut. Seharusnya Walikota segera mengundurkan diri. Kami juga mendesak Pol PP segera dibubarkan saja karena sangat arogan kepada pedagang dalam penggusuran tersebut," tukas seorang pengunjuk rasa.Hal itu disampaikan dia kepada Asisten I Pemerintah Sumatra Selatan Abdul Shobur, yang melayani pengunjuk rasa di halaman Kantor Gubernur Sumsel."Kami akan menuntut secara hukum atas terbunuhnya rekan kami itu. Kami punya bukti sangkur Satpol PP. Polisi saja tidak segarang Satpol PP. Kami minta juga seluruh barang yang disita Satpol PP segera dikembalikan," kata pengunjuk rasa lainnya.Pengunjuk rasa juga menegaskan mereka tidak akan mau pindah ke Pasar Ritel Jakabaring karena sepi pembeli. Mereka minta kembali berdagang di kawasan Jembatan Ampera, Masjid Lama dan Pasar 16 Ilir Palembang.Terhadap tuntutan terebut Abdul Shobur mengatakan semua aspirasi itu akan segera dikomunikasikan kepada Gubernur Sumsel dan Walikota Palembang.Selanjutnya seribuan tukang becak dan pedagang langsung menuju Kantor Walikota Palembang dengan berjalan kaki dan konvoi becak.Sekitar 30 orang petugas Dinas Perhubungan Palembang dikerahkan untuk mengamankan arus lalu lintas yang dimacetkan pengunjuk rasa. Mereka mengepung kantor walikota, namun Eddy Santana tidakberada di tempat. Eddy Santana Putra dikabarkan tengah melakukan kunjungan ke Eropa atas undangan Uni Eropa. Para pengunjuk rasa pun membubarkan diri di tengah turunnya hujan."Kami akan terus melakukan aksi apabila tidak ada keputusan dari Walikota, atau dia (Eddy) mundur," kata Sobirin, seorang penarik becak.Seperti diberitakan sebelumnya, Walikota Palembang Eddy Santana Putra membersihkan lokasi eks Pasar 16 Ilir Palembang dari para pedagang kaki lima. Sebab di atas lahan seluas 1,5 hektare itu akan dibangun sebuah taman wisata tepian Sungai Musi.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































