"Kalau saya lihat tujuannya para pimpinan itulah mereka semua acting. Di depannya kan Pak Fahri Hamzah, ini kaitan dengan apa yang ramai di komisi III, Miryam. Yang saya lihat ini mereka mau menyelamatkan pimpinannya ini Pak Setya Novanto," kata Ruhut dalam diskusi kantor ICW, Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis (18/5/2017).
Ruhut mengkritisi sikap Golkar yang awalnya tidak setuju terhadap hak angket namun kemudian berbalik arah. Ia menyebut kader Golkar di DPR berusaha untuk melindungi Novanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya lihat tokoh-tokoh yang saya tanya, mereka inginnya melihat Golkar itu solid. Mereka melihat Pak Novanto, selama dia belum tersangka ya jangan cawe-cawe. Kita harus tetap tampil di luar kompak," sambungnya.
Ruhut berkeyakinan sikap Golkar tersebut akan berpengaruh pada elektabilitas di Pilkada mendatang. Ia memprediksi Golkar akan keluar dari dua besar pada pemilu legislatif 2019.
"Golkar itu adalah partai lama, bergeser juga partai pemenang pemilu mereka tetap partai lama yang nomor urut dua. Kalau mereka tidak melihat jauh ke depan kaitan dengan hak angket ini hati-hati," tutur Ruhut.
"Mereka bisa keluar dari dua besar. Golkar harus punya pikiran luas ya. Jauh ke depan, jangan juga karena memaksakan hak angket ini," katanya. (fdu/imk)











































