Ya, Dakir didiagnosis mengidap tumor limfoma. Akibatnya, sekujur tubuhnya dipenuhi benjolan besar dengan gatal yang sangat terasa.
Dakir, yang sehari-hari hanya bekerja sebagai penjaga vila, sudah 27 tahun menderita penyakit tumor limfoma. Tubuhnya dipenuhi benjolan dengan ukuran lumayan besar. Bahkan benjolan besar di wajahnya nyaris membuat wajah Dakir tertutup. Ia mengaku sudah pernah menjalani operasi pengangkatan benjolan di punggung dan dadanya. Namun, beberapa tahun pasca-operasi, benjolan baru kembali tumbuh dengan jumlah lebih banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dakir mengaku tidak pernah mengira penyakitnya akan separah ini. "Awalnya cuma gatal saja. Saya garuk, tapi bekas garukan itu jadi tumbuh benjolan. Terus lama-lama banyak benjolan, terus lama-lama benjolannya membesar," katanya saat ditemui di sebuah vila di kawasan Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.
Sejak saat itu, lanjut Dakir, benjolan-benjolan baru terus tumbuh seiring dengan rasa gatal yang tidak kunjung hilang. Awalnya ia menganggap itu hanya penyakit biasa. Namun lama-lama gatal di tubuhnya semakin menjadi, diiringi benjolan yang tumbuh di beberapa bagian tubuhnya.
Merasa penyakitnya semakin parah, Dakir tidak diam begitu saja. Ia terus berupaya melakukan pengobatan. Dakir, yang dulu hanya bekerja sebagai penjaga vila, sempat mencoba mendatangi beberapa rumah sakit di Bogor. Hingga akhirnya, ia didiagnosis dokter mengidap tumor limfoma. "Iya, kalau kata orang kampung sini sih kelenjar getah bening," kata Eli, istri Dakir.
Dakir tak putus asa, ia yang hidup serbapas-pasan terpaksa pinjam sana-sini untuk biaya pengobatan. "Sudah malu pinjam, karena terlalu sering, terus kita gadai rumah kita. Tapi biaya masih kurang, itu rumah yang awalnya digadai ke tetangga terus kita jual. Mau gimana lagi, biaya operasi kan harus dibayar," kata Eli (48), saat ditemui di tempat yang sama.
"Jadi sekarang ya begini, sudah tidak punya tempat tinggal, sekarang tinggal di sini sambil urus vila. Untung anak sudah pada menikah, jadi sudah punya tempat tinggal masing-masing" sambungnya.
Sejak 4 tahun lalu Dakir dan Eli tinggal di vila di Desa Megamendung yang menurut keduanya merupakan milik seseorang penganut agama Buddha asal Surabaya, Jawa Timur. (try/try)