Hari Hak Asasi Manusia
Kamis 18 Mei 2017, 06:13 WIB

Perempuan, Mari Toleran di Gerbong Merah Jambu KRL

Ibnu Hariyanto - detikNews
Perempuan, Mari Toleran di Gerbong Merah Jambu KRL Gerbong khusus perempuan di KRL Jabodetabek (Jhoni Hutapea)
Jakarta - Gerbong perempuan di KRL sering kali dianggap sebagai gerbong yang lebih ganas dibanding gerbong umum. VP Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Eva Chairunisa mengimbau perempuan lebih toleran satu sama lain untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan aman di gerbong merah jambu.

"Untuk bisa menciptakan kenyamanan dan keamanan dalam transportasi publik itu perlu dukungan dari pengguna jasa. Kita mohon penguna jasa itu menjaga dan tidak membuat keributan yang menggangu kenyamanan penumpang lainnya. Lebih bertoleransi artinya dalam mengunakan transportasi publik itu harus menyadari dia tidak sendiri di sana, ada orang lain sehingga kita harus bertenggang rasa," kata Eva saat berbincang dengan detikcom, Rabu malam, (17/5/2017).

Eva juga menampik anggapan jika gerbong KRL wanita terasa lebih ganas. Sebab, menurutnya masih ada pengguna jasa KRL khusunya di gerbong wanita yang masih menjaga kenyamanan dan ketertiban.

[Gambas:Video 20detik]

Baca juga: Curhat Netizen Soal Gerbong Wanita: Lu Lembek, Lu Diinjek!

"Saya juga penggunan KRL juga. Kalau saya melihat banyak penumpang lain yang menggunakan KRL khusus wanita dia bisa bertoleransi dengan baik. Kalau ada yang membutuhkan tempat duduk dia mau mencarikan dan memberikan tempat duduk. Saya lihat masih banyak kok yang bisa menjaga ketertiban dan kenyamanan tersebut," kata Eva.

Karena itu menumbuhkan kesadaran individu tentang bertoleransi di transportasi umum sangatlah penting. Salah satu cara tersebut adalah dengan memberikan sanksi kepada penguna KRL yang kedapatan mengganggu ketertiban umum.

Baca juga: Dalam 3 Bulan, KCJ 2 Kali Turunkan Penumpang Perempuan Karena Ribut

"Kita tidak mungkin menolak orang dari awal untuk tidak masuk dengan alasan apa, nggak ada. Inikan masalah perilaku orang, jadi yang terdekat karena ini akan menjadi kasus kriminal jika sudah ada orang yang jadi korban. Jadi kalau ada orang yang merasa jadi korban atau dirugikan itu tentunya akan dibawa ke pos pengamanan dan akan dibawa ke pihak yang berwajib," tutur Eva.
(ibh/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed