"Bagian motif ini ya, kita harus cari. Kan Novel pernah menangani kasus atau sedang menangani kasus. Nah, kita harus tanya itu, kasus-kasus yang sudah ditangani apa saja, misalnya yang sudah ada di situ kira-kira, ada yang sakit hati nggak di situ. Punya potensi semua di situ. Itu perlu kita lakukan penyelidikan di situ," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, Rabu (17/5/2017).
Argo lalu menyebut salah satu kasus yang ditangani Novel adalah dugaan korupsi proyek e-KTP. Dia mengatakan salah satu yang bakal diperiksa adalah Miryam S Haryani. Anggota DPR dari Fraksi Partai Hanura itu memang pernah bersinggungan dengan Novel dengan mengaku ditekan ketika bersaksi dalam sidang.
"Ya, kita pun misalnya disuruh bantu untuk mencari itu pun kita juga melakukan interview ya, seperti Bu Miryam di situ. Kita interview. Ada potensi nggak kira-kira Bu Miryam itu. Siapa yang menyuruh, siapa yang melindungi, itu perlu kita selidiki," kata Argo.
Saat ditanya apakah polisi sudah memiliki rencana memanggil Miryam, Argo menyebut tergantung proses penyelidikan nanti. Apabila nantinya ada potensi yang mengarah, pemeriksaan terhadap Miryam kemungkinan dilakukan.
"Kita lakukan penyelidikan di situ. Yang punya potensi-potensi kita lakukan semuanya. Nanti kita lihat dari hasil penyelidikan itu, ya," kata Argo.
Teror terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017. Saat itu, Novel pulang dari menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya. Ia dipepet dua orang yang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba orang itu menyiramkan air keras ke wajah Novel.
Novel sendiri memang salah satu penyidik senior KPK yang kerap menangani perkara korupsi kelas kakap. Kasus terakhir yang dia tangani adalah perkara dugaan korupsi proyek e-KTP.
Saat ini, Novel berada di Singapura untuk menjalani perawatan. Air keras yang disiramkan ke Novel itu berdampak pada kondisi matanya. (dhn/fjp)











































