DetikNews
Selasa 16 Mei 2017, 13:40 WIB

Tulisan Siswi SMA Banyuwangi soal Keberagaman Tuai Banyak Pujian

Aditya Mardiastuti - detikNews
Tulisan Siswi SMA Banyuwangi soal Keberagaman Tuai Banyak Pujian Afi Nihaya Faradisa dan koleksi bukunya (Ardian Fanani/detikcom)
Jakarta - Afi Nihaya Faradisa kembali menjadi perbincangan netizen. Setelah menceritakan pengalamannya bereksperimen tak menggunakan gadget selama beberapa hari, kali ini dia membahas mengenai indahnya keberagaman di Indonesia. Tulisannya itu menuai banyak pujian.

Ditilik dari laman Facebook-nya, Selasa (16/5/2017), tulisan Afi berjudul 'Warisan' itu telah dibagikan sebanyak 8.214 kali dan mendapat reaksi dari 18 ribu netizen. Lewat tulisannya, dia mengajak seluruh bangsa Indonesia menjaga toleransi, khususnya di media sosial.

Siswi SMA Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur, itu menyoroti soal identitas, baik agama, suku, ras, maupun kebangsaan, adalah warisan dari orang tua. Dia mengajak seluruh warga negara Indonesia menghayati Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sehingga kehidupan toleransi hidup beragama tetap terjaga.

"Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan kepada anak-cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan, bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan," tulis Afi.

"Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir," sambung Afi.

Di kolom komentarnya, Afi minta agar tulisannya itu tidak dihubungkan dengan Pilkada Jakarta. Tulisan itu semata untuk membenahi landasan berpikir.

"Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan berpikir kita, jangan apa-apa dihubungkan ke Pilkada Jakarta. Mengutip perkataan John Dewer, 'Pikiran itu seperti parasut; hanya berfungsi ketika terbuka,'" kata dia.

Tulisan Afi itu pun mengundang pujian netizen. Banyak yang mengapresiasi kearifan Afi di usianya yang belia.

"Super sekali Afi tulisan kamu.. saya suka terutama di bagian 'ribut di media sosial'... tepat sekali, di dunia nyata kita semua baik2 saja, namun masuk di medsos kok panas. Medsos butuh banyak tulisan sejenis seperti yang kamu tulis ini.. Dingin, Adem, Harmonis. Baru aja tadi pagi saya mau memutuskan OFF FB, mau detox Dr Postingan2 Panas di FB.. mau berhenti share apapun di FB.. Tapi rasanya saya akan rubah, saya akan share Tulisan2 yang dingin2 seperti tulisanmu, supaya semua teman di FB bisa pada adem dah.. ijin share ya," tulis Ming Ling.

"Kereeennn nihh tulisannya... Smogaa Indonesia segera pulihh dan semoga yg terjadi saat ini adalah Fase Pemulihan ke arah yg jauh lebih baik..Ammiinn #staypositif," tulis Andromeda Generali.

Berikut tulisan lengkap Afi:

WARISAN
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa



(ams/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed