DetikNews
Selasa 16 Mei 2017, 09:52 WIB

Kata Menkominfo hingga Kepala BIN Soal Teror Virus WannaCry

Idham Kholid - detikNews
Kata Menkominfo hingga Kepala BIN Soal Teror Virus WannaCry Foto: Ilustrasi (Reuters/Kacper Pempel)
Jakarta - Virus Ransomware WannaCrypt atau WannaCry menyerang berbagai fasilitas yang terhubung internet di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, virus ini menyerang perangkat komputer RS Dharmais, Sabtu pekan lalu. Seperti apa cara kerja virus itu?

Direktur Tindak Pinada Siber Bareskrim Brigjen Fadil Imran menjelaskan, cara kerja virus tersebut adalah mengunci sistem sehingga file tidak dapat diakses penggunanya. Untuk membuka kunci tersebut, si penyebar virus meminta tebusan. Saat ini jenis virus yang meneror adalah WannaCryptor 2.0 Ransomware.

"(Virus tersebut, red) memanfaatkan kelemahan security pada Sistem Operasi Microsoft, yang mana Microsoft telah menyediakan Security Update Patch untuk menanganinya pada beberapa saat yang lalu," kata Fadil melalui pesan singkat kepada detikcom, Senin (15/5/2017).

"Modus pelaku yang meminta tebusan dengan negosiasi akan diberikan solusi atau jalan keluar atas serangan tersebut, namun dengan mengirimkan virtual money seperti bitcoin," sambung dia.

Di Indonesia, virus ini menyerang perangkat komputer Rumah Sakit Dharmais, Sabtu (13/5) lalu. Meski begitu, RS Dharmais memastikan pelayanan tetap berjalan. Data pasien juga dipastikan aman.

"Oh aman, data pasien itu aman. Yang muncul di tampilan menu itu semua berubah menjadi huruf semua," kata Presiden Direktur RS Dharmais Abdul Kadir di kantornya, Jl S Parman, Jakarta Barat, Senin (15/5.

Pihak RS Dharmais mengatakan persoalan administrasi komputer di rumah sakit tersebut akan segera kondusif dalam satu atau dua hari ini. Untuk mencegah terjadi kasus serupa, Abdul mengatakan pihaknya diwajibkan rutin menyalin data di perangkat lain. Selain itu, pihak RS Dharmais akan memperbarui antivirus di perangkat komputer mereka.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, berdasarkan informasi yang dia dapat hanya RS Dharmais yang mengalami serangan virus tersebut. Mengenai potensi serangan susulan, Rudi menilai potensi itu tidak ada.

"Saya rasa tidak ada ya," ujar Rudi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin (15/5/2017).

Rudi menjelaskan, tidak adanya potensi serangan susulan itu karena menurutnya saat ini perkembangan virus tersebut telah dipantau oleh pihak internasional. Bahkan FBI pun telah turun tangan mengatasi hal itu.

"FBI sendiri sudah mengeluarkan semacam analisis. Analisis itu untuk menyelesaikannya. Jadi sederhana saja sekarang untuk antisipasi bisa matikan dulu Wi-Fi dan matikan dulu LAN. Selain itu juga lakukan back-up data, agar kalau terjadi apa-apa bisa aman," ujar Rudi.

Rudi mengatakan bahwa melalukan back-up data merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Karena salah satu masalah menghadapi virus itu adalah data-data yang tidak bisa dibuka.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan mengingatkan instansi publik strategis di Indonesia meningkatkan kemampuan sistem pengamanan informasi. serangan ini merupakan ancaman baru berupa proxy war atau cyber war (perang siber) yang digunakan berbagai pihak. Salah satu tujuannya melemahkan suatu negara.

"Negara dan seluruh instansi terkait pengamanan informasi harus mulai mengubah paradigma sistem pengamanan informasi, dari pengamanan informasi 'konvensional', seperti Firewall dan Antivirus, menjadi ke arah sistem pengamanan terintegrasi yang memiliki kemampuan deteksi serangan secara dini (intelligence system) ke seluruh komponen sistem informasi yang digunakan," ucap Budi.

Budi menjelaskan soal serangan virus WannaCry tersebut di Indonesia. Virus tersebut menyerang sistem informasi rumah sakit Dharmais dan Harapan Kita, sehingga melumpuhkan pelayanan rumah sakit kepada masyarakat. Dikhawatirkan virus ini juga akan menyerang sistem informasi instansi lainnya dan pengguna komputer secara umum.

"Serangan ini berawal dari bocornya tool yang digunakan oleh NSA (National Security Agency), yaitu sebuah kode pemrograman (exploit) yang memanfaatkan kelemahan sistem dari Microsoft Windows. Exploit ini digunakan sebagai suatu metode untuk menyebarkan secara cepat software perusak yang bernama WannaCry ke seluruh dunia. Grup hacker yang menyebarkannya adalah Shadow Broker," ungkap Budi.
(idh/rvk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed