Tren Parpol: Aklamasi dan Pecah

Tren Parpol: Aklamasi dan Pecah

- detikNews
Kamis, 28 Apr 2005 10:33 WIB
Jakarta - Aklamasi kini menjadi tren partai politik (parpol) di tahun 2005. Tapi, cara aklamasi itu malah membuat parpol itu pecah. Ironisnya, parpol gurem pun ikutan. Dari segi 'istilah', aklamasi itu memang bagus. Pemilihan aklamasi itu didasari semangat asas musyawarah dan mufakat. Tapi, kalau aklamasi malah membuat perpecahan, tentu cara itu patut dipertanyakan. Seiring kecenderungan aklamasi, parpol juga semakin alergi dengan voting. Dari berbagai fakta yang terjadi, pemilihan diketuk secara aklamasi cenderung hanya dijadikan sebagai trik, menghindar dari kekalahan saat voting. Dari sejumlah parpol yang melakukan kongres/munas/muktamar dalam enam bulan terakhir, hanya Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang memilih pimpinan barunya melalui voting. Hasil voting itu menghasilkan M Jusuf Kalla menjadi ketua umum Partai Golkar mengalahkan Akbar Tandjung dan Soetrisno Bachir sebagai ketua umum DPP PAN mengalahkan Fuad Bawazier. Dan sampai hari ini, Kamis (28/4/2005), sudah ada tiga partai politik yang menetapkan pimpinan parpolnya dengan cara aklamasi. Dua parpol di antaranya adalah parpol gajah, PDIP dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Sedangkan satu parpol lainnya, adalah partai gurem - sebutan untuk parpol di bawah electoral threshold - PBR (Partai Bintang Reformasi). Kecenderungan untuk menetapkan pimpinan parpol secara aklamasi terjadi, bila sang incumbent (pimpinan parpol periode lalu) ikut bertarung. Dengan cara ini, sang incumbent pun dengan mudah untuk mempertahankan singgasananya. Bahkan, sangat mudah!PDIP yang berkongres di Bali awal April lalu akhirnya mempertahankan Megawati sebagai ketua umumnya. Cara penetapan Mega secara aklamasi membuat seterunya - kelompok PDIP Pembaruan - kaget. Betapa tidak! Penetapan Mega secara aklamasi dilakukan dalam agenda pemandangan umum DPD-DPD. Bukan dalam agenda pemilihan ketua umum. Cara ini akhirnya membuat PDIP Pembaruan menjauh dari DPP PDIP pimpinan Megawati. Pecah! Padahal, tokoh-tokoh di kelompok ini cukup punya nama secara nasional, seperti Laksamana Sukardi, Sophan Sophiaan, Arifin Panigoro, Roy BB Janis, dan Noviantika Nasution. Cara aklamasi ala PDIP ini kemudian diikuti PKB, partai kebanggaan warga Nahdlatul Ulama (NU). Dalam kongres pertengahan April 2005 lalu di Semarang, Gus Dur secara aklamasi sebagai ketua umum Dewan Syuro DPP PKB 2005-2010. Nasibnya sama dengan PDIP! Seteru Gus Dur kaget dengan penetapan itu. Mereka seakan tidak percaya, Gus Dur ditetapkan secepat itu, dalam agenda pemandangan umum DPW-DPW. Padahal, seteru Gus Dur, Alwi Shihab dan Saifullah Yusuf, sedang giat-giatnya untuk mematangkan strategi. Setelah itu, PKB tentu pecah. Kubu Alwi-Saifullah masih tetap mengklaim pihaknya sebagai DPP PKB yang sah. Bahkan, mereka sedang merancang menggelar muktamar II PKB versi mereka. Seru! Dan langkah PDIP dan PKB ini ternyata juga mampir di muktamar PBR (Partai Bintang Reformasi), Rabu (27/4/2005) di Hotel Sahid Jakarta. Modusnya sama, Zainuddin MZ ditetapkan sebagai ketua umum DPP PBR di saat pemandangan umum DPW-DPW baru usai. Jelas, cara ini membuat kaget seterunya. Akhirnya, kubu Zainal Ma'arif (sekarang wakil ketua DPR), membentuk DPP PBR versi lain. Berdiri di belakang Zainal, sejumlah politisi PBR yang cukup dikenal, Djafar Badjeber, Mahendra Datta, dan Rizal Fadhillah. PBR pun pecah. Hasil pemilu legislatif 2004 lalu, PBR hanya mendapat suara di bawah 3 persen, di bawah electoral thereshold. Tentu, untuk mengatrol suaranya pada Pemilu 2009, PBR akan semakin sulit, dengan perpecahan ini. Ada dua parpol yang segera menggelar muktamar dan kongres. PBB (Partai Bulan Bintang) akan memulai muktamarnya hari ini, Kamis (28/4/2005) di Surabaya, sedangkan Partai Demokrat akan menggelar kongres pada pertengahan Mei 2005 di Bali. Akankah kedua parpol ini juga akan menerapkan aklamasi dan alergi terhadap voting? Kita lihat nanti. Yang jelas, jabatan ketua umum PBB dan ketua umum PD juga diincar oleh dua menteri di kabinet SBY-Kalla. Malam Sabat Kaban maju sebagai calon ketua umum PBB, sedang Taufiq Effendi maju sebagai calon ketua umum PD. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads