DetikNews
Senin 15 Mei 2017, 16:13 WIB

Penyelundupan 63,8 Ton Amonium Nitrat di Laut Bali Digagalkan

Mega Putra Ratya - detikNews
Penyelundupan 63,8 Ton Amonium Nitrat di Laut Bali Digagalkan Foto: Dok Bea Cukai
Denpasar - Operasi Patroli Laut Jaring Wallacea Bea Cukai mengamankan kapal kayu yang membawa amonium nitrat di perairan Laut Bali. Amonium nitrat seberat 63,8 ton yang dibawa kapal tersebut tidak memiliki dokumen sah.

"Setelah dilakukan pencegahan, tim patroli laut Bea Cukai melakukan pemeriksaan. Hasilnya diketahui bahwa kapal tersebut berlayar dari Tanjung Belungkor, Malaysia dengan tujuan Maluku Tenggara. Selain itu mereka tidak dapat menunjukkan manifest saat ditanya tim patroli," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai dalam keterangan tertulis, Senin (15/5/2017).

Amonium nitrat yang diamankan itu terbagi menjadi 2.552 karung dengan berat masing-masing 25 kg. Amonium nitrat merupakan bahan kimia yang pemasukannya diatur dengan ketentuan larangan atau pembatasan sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997.

Pemasukannya juga harus dilindungi dokumen manifest. Para pelaku diduga telah melanggar Pasal 102 huruf a Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

"Jika barang tersebut diimpor dan tidak tercantum dalam manifest maka akan diproses secara hukum, karena dianggap melakukan penyelundupan," tegas Heru.

Pencegahan terhadap amonium nitrat dilakukan karena selain menyebabkan kerugian materil yang nilainya mencapai Rp 8,2 miliar, pemasukan amonium nitrat secara ilegal juga menimbulkan kerugian imateril.

Pemasukan amonium nitrat secara ilegal memiliki dua potensi risiko, di mana potensi pertama adalah penggunaan amonium nitrat untuk keperluan penangkapan ikan yang dapat berpotensi merusak terumbu karang.

Kondisi terumbu karang di Indonesia secara umum adalah 5% berstatus sangat baik, 27,01 % dalam kondisi baik, 37,97% dalam kondisi buruk, dan 30,02% dalam kondisi sangat buruk.
Penyelundupan 63,8 Ton Amonium Nitrat di Laut Bali DigagalkanFoto: Dok Bea Cukai

Dari tiga wilayah Indonesia, kondisi terumbu karang paling buruk dan semakin menurun adalah di wilayah Indonesia Timur. Dalam 1 kg amonium nitrat bisa menghasilkan 20 botol bom ikan (ukuran botol soft drink).

Potensi risiko kedua adalah penyalahgunaan amonium nitrat sebagai bahan peledak untuk tindak pidana terorisme. Sehingga penindakan terhadap amonium nitrat secara masif diharapkan melindungi sumber daya alam dari rusaknya ekosistem laut dan mencegah terjadinya tindak pidana terorisme dari penyalahgunaan bahan-bahan peledak secara ilegal.

Penindakan terhadap amonium nitrat ini bukan yang pertama kalinya dilakukan. Bea Cukai dan Kepolisian Republik Indonesia telah bekerja sama melakukan penindakan dari tahun 2009-2016 sebanyak 166.475 kg.

Estimasi nilai barang Rp 74,77 miliar, di Perairan Pulau Mapor, Perairan Laut Cina, Perairan Tokong Malang Biru Kepulauan Riau, Perairan Pulau Marapas, Perairan Pulau Pejantan Kab. Bintan, dan Perairan Pulau Berakit.

Saat ini barang bukti berupa amonium nitrat telah dibongkar, dan dititipkan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Denpasar. Bea Cukai juga terus menjalin kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menyelidiki kasus ini terkait dengan dugaan pelanggaran terhadap pertahanan dan kemanan negara Indonesia.

"Sinergitas antar instansi yang sudah dilaksanakan ini menunjukkan hasil yang konkret dan positif untuk menangani kasus serupa dan memberantasnya mulai dari hulu hingga ke hilir," jelas Heru.

Upaya Bea Cukai dalam menjaga keamanan perairan Indonesia dari penyelundupan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Hal ini dilakukan mengingat masih tingginya potensi pelanggaran terhadap Undang-Undang Kepabeanan dan Peraturan Perundang-undangan lain yang pelaksanaannya dibebankan kepada Bea Cukai.

Di awal Mei 2017 ini, Bea Cukai baru saja kembali memulai dua operasi patroli laut sebagai bentuk pengamanan terhadap seluruh wilayah perairan Indonesia. Di wilayah perairan Indonesia Barat digelar Operasi Patroli Laut Jaring Sriwijaya yang menerjunkan 17 armada kapal patroli.

Wilayah pengawasannya mulai dari Perairan Aceh-Belawan, Tanjung Balai Asahan-Tanjung Sinaboy, Tanjung Parit-Batam, Tanjung Pinang-Perairan Sumatera Bagian Selatan, sektor laut Natuna hingga wilayah Perairan Kalimantan Bagian Barat.

Sedangkan di wilayah perairan Indonesia tengah dan timur, Bea Cukai juga menggelar Operasi Patroli Laut Jaring Wallacea dengan menerjunkan 6 kapal patroli dan 2 kapal cadangan. Operasi Patroli Laut ini merupakan upaya nyata Bea Cukai dalam memperketat pengawasan terhadap upaya penyelundupan barang ekspor, barang yang terkait terorisme, serta pelanggaran yang dapat merusak sumber daya alam.

Wilayah pengawasan Patroli Laut Jaring Wallacea mencakup perairan Kalimantan Bagian Timur, Sulawesi, Halmahera, Banda, Bali, Arafura, hingga perairan utara Papua.
(ega/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed