"Kondisi keberagamaan di Indonesia, saya lihat, secara makro, kita harus bersyukur. Indonesia hidup dalam kemajemukan. Tapi sesungguhnya masih muncul di etnis manapun di daerah kita nilai keagamaan itu masih muncul," kata Lukman dalam sebuah acara dialog di Masjid Bayt Al Quran, Jalan Kompleks Villa Bukit Raya, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/5/2017).
Dia mengatakan hal ini patut disyukuri oleh masyarakat Indonesia. Sebab, hal ini menjadi tanda bahwa nilai yang diwariskan oleh nenek moyang masih hidup hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kalau kita zoom ke daerah tertentu, ada fenomena, ada potensi yang kalau tidak diseriusi akan menjadi ancaman kedepannya," ujarnya.
Menurutnya, konflik tersebut bisa terjadi karena umat beragama di Indonesia kadang hanya melihat dari sisi luar dan kaku dengan adanya perbedaan.
"Sekarang banyak yang beragama yang melihat sisi luar saja. Jadi terlalu formal. Agama hanya dilihat sebagai medium yang sangat formal yang tentu akan dijumpai perbedaan. Jangankan antar-agama, tapi dalam satu agamanya saja sudah banyak kekayaan nilai yang muncul," ungkapnya.
Lukman mengatakan, pada dasarnya di setiap agama memiliki isi yang sama. Menurutnya, isi agama ini adalah sisi dalam agama yang dipunyai setiap agama yang ada.
"Semua agama bicara pada esensi yg sama. Memanusiakan manusia. Bagaimana menjunjung tinggi hak asasi, jangan membunuh, jangan menipu. Semua agama bicara itu," kata dia.
Untuk menyiasati hal tersebut, menurut Menag diperlukan dakwah yang mampu mengajak masyarakat untuk dapat melihat sisi 'dalam' agama. Hal ini dibutuhkan agar potensi konflik dapat dihilangkan.
"Kita kurang melihat dan mendengar sekaligus mendakwahkan agama di sisi dalamnya ini. Tapi sisi luar yang disampaikan yang kalau hanya melihat perbedaan dapat menimbulkan konflik," tuturnya. (jbr/rna)











































