Patih Laman meninggal pada Rabu (10/5) sekitar pukul 19.10 WIB di rumah anaknya di Talang Durian Cacar, Desa Sei Ekok, Kab Indragiri Hulu (Inhu), Riau.
Juru bicara keluarga, Gilung (36), kepada detikcom, Kamis (11/5/2017), mengatakan, belakangan ini Patih Laman memang sudah sakit-sakitan. "Tadi malam, Patih Laman meninggal di rumah anaknya. Saat ini kami lagi prosesi pemakaman secara adat suku Talang Mamak," kata Gilung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk proses penggalian kuburan ada 100 orang yang silih berganti. Di rumah duka juga lagi ramai saat ini," kata Gilung.
Dalam catatan detikcom, Patih Laman adalah tokoh adat yang cukup disegani di lingkungan masyarakat Talang Mamak. Patih adalah gelar tertinggi dalam masyarakat Talang Mamak yang sebagian hidup di dalam kawasan TNBT, sedangkan nama aslinya adalah Laman.
Sebagai tokoh adat, Patih Laman menorehkan sejumlah pengakuan dunia internasional dalam mempertahankan kawasan hutan TNBT.
Sejak zaman Orde Baru, Patih Laman berjuang melawan segala kebijakan pemerintah yang menjadikan kawasan hutannya menjadi area hak pengusahaan hutan oleh perusahaan. Patih Laman tak gentar, berbagai rintangan dia hadapi. Dia terus melakukan perlawanan atas kebijakan pemerintah itu.
Dalam perjalanan pahitnya, Patih Laman, yang pernah berbincang-bincang dengan detikcom pada 7 Februari 2011, pernah menceritakan dituding Gubernur Riau, kala itu Soeripto, sebagai PKI. Ini karena Patih Laman melakukan perlawanan atas penguasaan hutan belantara yang dimukimi masyarakat Talang Mamak. Patih Laman menggelar demo ke kantor Gubernur Riau di Pekanbaru.
"Waktu kami berdemo ke kantor Gubernur, kami dituduh PKI. Saya jawab gampang saja. Pak Gubernur, kami ini buta huruf, tak tahu apa itu PKI. Karena Bapak yang tahu apa sebenarnya PKI, berarti bapak gubernurlah yang PKI," kata Patih Laman waktu itu. Konon, hal itulah yang membuat Gubernur Riau tertegun.
Perjuangan Patih Laman dalam mempertahankan kawasan hutan pada 1999 diganjar anugerah tertinggi dari World WideFund for Nature (WWF) Internasional for Conservation. Dia mendapat anugerah sebagai tokoh yang berhasil mempertahankan kawasan hutan berserta adat istiadat masyarakat. Dia menerima anugerah itu di Sabah, Malaysia.
Pemerintah Indonesia juga mengakui perjuangan Patih Laman. Pada 5 Juni 2003 di Istana Negara, Presiden Megawati Soekarnoputri memberikan penghargaan Kalpataru kepada tokoh adat Riau itu.
Sebelum ajal menjemput, Patih Laman punya niat mengembalikan Kalpataru yang dia miliki ke pemerintah pusat. Niat itu dia sampaikan kepada wartawan karena kekesalannya terhadap pemerintah yang tidak bisa melindungi hutan dan adat istiadat masyarakat setempat. Patih Laman merasa gerah, untuk apa Kalpataru dia dapatkan jika pemerintah tidak bisa menyelamatkan sisa hutan yang ada. Sayangnya, rencana pemulangan Kalpataru itu belum terlaksana hingga Patih Laman meninggal dunia.
Patih Laman adalah tokoh lingkungan yang tak kenal pamrih dalam memperjuangkan kawasan hutan. Dia tak pernah menyerah sampai akhir hayatnya tetap mengawal kawasan hutan dari segala bentuk penjarahan. (cha/rvk)











































