Pemprov Jabar Belajar Olah Sampah dan Transportasi Massal di Chongqing

Pemprov Jabar Belajar Olah Sampah dan Transportasi Massal di Chongqing

Mega Putra Ratya - detikNews
Kamis, 11 Mei 2017 03:17 WIB
Pemprov Jabar Belajar Olah Sampah dan Transportasi Massal di Chongqing
Foto: Dok. Pemprov Jawa Barat
Chongqing - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tertarik dengan pola pengolahan sampah Kota Chongqing, China. Kota Chongqing mengolah sampah dengan sistem ramah lingkungan dan menghasilkan energi terbarukan.

Pemerintah kota dan kabupaten di Jawa Barat bisa mengadopsi pengolahan sampah di kota besar yang setara dengan provinsi di China tersebut. Selain itu, hal yang bisa ditiru lainnya adalah upaya pemerintah Chongqing menanamkan budaya kebersihan di kota tersebut.

Hal itu mengemuka dalam penandatangan nota kesepahaman bersama sister province antara Pemprov Jabar dan Pemkot Metropolitan Chongqing di Hotel Wudu, Kota Chongqing, Senin (8/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gubernur Ahmad Heryawan (Aher) menuturkan, rencana kerja sama dalam mengatasi masalah persampahan tersebut memang di luar poin-poin yang mereka kemukakan. Namun dengan sister province, kerja sama berbagai bidang bisa terwujud.

Berkaitan dengan masalah sampah tersebut, pihak Chongqing bisa berinvestasi di Jabar atau melakukan share teknologi ke Jabar.

"Mereka memiliki permasalahan yang sama awalnya dengan kita tentang persampahan. Namun akhirnya mereka mengubah perilaku masyarakat. Itu bisa masuk dalam kerja sama pembudayaan sosial juga. Dampak perubahannya, sungai bersih, kemudian sampah tidak berserakan," ujarnya.

Yang menarik, kata Aher, tipping fee di Chongqing pun terhitung lebih rendah, hanya butuh 60-65 yuan per ton atau sekitar Rp 120 ribu.

"Memang kalau untuk di Jabar sekarang, untuk Chongqing bisa masuk ke dua TPPAS kita sudah tidak keburu. Kan Nambo sudah ada pemenangnya. Legok Nangka juga sudah proses lelang. Paling ya beberapa tahun ke depan bisa diterapkan. Tapi saya dorong pemerintah kota dan kabupaten untuk bisa memanfaatkan pengolahan sampah dari Chongqing ini," jelasnya.

Aher menegaskan masalah pengolahan sampah merupakan urusan wajib pemerintah kota/kabupaten dan urusan pilihan pemprov. Meski pilihan, pihaknya tetap serius karena sampah harus ditangani. Jika tidak, akan jadi masalah berat lingkungan dan kesehatan.

Lebih jauh, dalam kerja sama pada sister province tersebut, Aher mengakui dua kali hadir ke Chongqing pada 2013 ketika diajak perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi monorel. Menurut dia, perkembangannya cukup pesat. Dulu hanya 2-3 gerbong, tapi saat ini sudah bisa memproduksi hingga delapan gerbong.

"Kalau 2013 kita membuat rencana pembangunan monorel untuk kawasan Bandung Raya, tapi itu sama pusat dan diganti dengan LRT kerja sama dengan China. Untuk monorel, kami punya proyek baru pembangunan kawasan bandara dan aerocity dan kami bisa bekerja sama di aerocity untuk monorel ini. Kerja sama ini tidak hanya satu bidang kerja sama, tapi lewat sister province kita bisa kerja sama untuk lebih jauh lagi," tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Chongqing Zhang Guoqing mengatakan pihaknya siap membantu Jabar jika berminat menggunakan atau transfer informasi terkait pengolahan sampah.

"Ya, di sini sampah juga sempat jadi permasalahan, tapi kami sudah bisa menanganinya," ungkapnya.

Selebihnya, Zhang mengklaim mengetahui Jabar sangat berminat terhadap monorel. Pihaknya pun menyambut baik keinginan Aher karena monorel seperti Chongqing ini sangat cocok untuk kota metropolitan.

"Perkembangan tahun ini kami banyak menguasai teknik monorel, termasuk penelitian, iptek, rancangan, dan termasuk produk yang berkaitan dengan sistemnya. Termasuk pembangunan dan proyeknya serta pengoperasiannya. Jadi yang kita bisa kaji bukan hanya sistem peralatan, tapi seluruh set pengoperasian monorel. Jadi rancangan bisa kita jalankan kalau milih monorel Chongqing," kata dia.

Dia mengklaim monorel buatannya memiliki banyak kelebihan, di antaranya kuat menanjak, sehingga cocok untuk di daerah yang wilayahnya tinggi dan rendah. Yang kedua, mudah berbelok. Jangka waktu untuk proyek monorel tidak terlalu lama dan biaya monorel relatif rendah serta pengoperasiannya mudah sekali.

"Apabila Indonesia atau Jabar milih monorel untuk masalah trans, kami akan kasih dukungan sebesar-besarnya," katanya.

Pemprov Jabar Belajar Olah Sampah dan Transportasi Massal di ChongqingFoto: Dok. Pemprov Jawa Barat



Peluang Dongkrak Investasi

Sederet kerja sama sister province yang dijalin Pemerintah Provinsi Jabar dengan provinsi di negara lain, termasuk empat MoU di China, berpotensi mendongkrak jumlah investasi asing di Jawa Barat.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Barat Dadang Mohamad Ma'soem mengatakan, meski saat ini nilai investasi dari keempat provinsi tersebut belum bisa ditaksir, peluang pengusaha asal China ke Jabar itu cukup terbuka. Terlebih saat ini nilai investasi China di Jabar senilai Rp 6,4 triliun atau USD 465 juta selama 2016.

"Itu termasuk Hong Kong. Jika dijumlahkan, penanaman modal asing dari China berada pada urutan ketiga teratas, setelah Jepang dan Singapura, di Jabar," kata Dadang.

Menurut Dadang, investor China yang ada saat ini mampu menarik para calon investor lainnya. Dalam realisasi investasi Jabar pada periode triwulan I (Januari hingga Maret) Jabar sudah mencapai 17,7 persen (Rp 29,3 triliun), di atas DKI Jakarta yang hanya 11,6 persen (Rp 24,2 triliun) dan Jawa Timur yang hanya 7,6 persen (Rp 12,6 triliun).

"Dengan persentase tersebut, Jabar telah mencapai 28,17 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah pusat 2017 sebesar Rp 104 triliun," kata dia.

Selain itu, pada penanaman modal asing (PMA) di Jabar pun menjadi nomor satu. Disusul DKI dan Papua pada urutan ketiga. Pada triwulan pertama PMA sudah mencapai USD 1,5 miliar, sementara DKI Jakarta hanya USD 0,9 miliar dan Papua USD 0,6 miliar.

"Kebanyakan investasi dalam manufaktur dan industri logam," tuturnya.

Dadang menambahkan, pihak asing banyak yang percaya menanamkan modal ke Jabar karena Jabar sangat kondusif dengan keamanan dan kenyamanannya.

"Kita harus jaga itu dan kami pun senantiasa melakukan inovasi. Di antaranya pengurusan izin selama tiga jam yang sudah berjalan. Dan itu bagian dari promosi kami agar investor tertarik menanamkan modal di Jabar," kata Dadang.

Pemprov Jabar Belajar Olah Sampah dan Transportasi Massal di ChongqingFoto: Dok. Pemprov Jawa Barat

Kerja Sama dengan Sichuan

Selain isu transportasi dan perdagangan, fokus kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Sichuan cukup menarik. Pemprov rupanya membidik kerja sama dalam bidang pariwisata dan pertanian.

Seperti diketahui, Sichuan merupakan satu-satunya tempat penangkaran panda di China. Peluang Jabar mendapatkan panda untuk melengkapi daya tarik wisata ke Jabar cukup terbuka melalui kerja sama tersebut.

"Kerja sama dengan Sichuan itu bobot terbesarnya adalah pariwisata dan pertanian. Semua bidang ada, tapi kita berikan prioritas pada sektor itu. Di sana dikembangkan pariwisata dan mereka punya kekhasan, yaitu panda. Panda spesifik China," ujar Kepala Biro Pemerintahan dan Kerja Sama Pemprov Jabar Taufik Budi Santoso.

Diakui Taufik, dulu Jabar pernah mau ditransfer panda ke Taman Safari.

"Tapi kenapa belum terwujud, saya juga tidak tahu. Mudah-mudahan dengan kerja sama ini peluang itu bisa ada. Bagaimana pariwisata Sichuan itu dikenal oleh Jabar. Begitu pula dengan Jabar dikenal Sichuan, yang tidak punya gurilaps seperti pegunungan, hot spring, yang hanya ada di Jabar," kata Taufik.

Selain itu, kerja sama lainnya adalah di bidang pertanian. Sebab, di China pun unggulannya adalah ketahanan pangan.

Di samping kedua bidang tersebut, kata dia, Sichuan saat ini sedang mengembangkan bandara yang nantinya akan menjadi bandara terbesar kedua di China.

"BIJB sudah terkoneksi dengan pengelola airport di Sichuan, tidak hanya direct flight Sichuan rangkul BIJB untuk menjadi pengelola bandara internasional dalam forum itu. Karena untuk menjadi bagian forum tersebut tidak sembarangan. Hal itu sudah terjadi, tinggal operasionalkan," jelasnya. (mpr/ams)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini