"Kita gandeng BPPT untuk meneliti sejauh mana kondisinya. Kesimpulan sementara, kontur tanah yang ekstrem curam. Kemudian curah hujan yang sangat tinggi membuat akar pohon menjadi beban, sehingga ini yang menyebabkan longsor," kata Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie saat mengunjungi lokasi, Rabu (10/5/2017).
Dia menambahkan tanah di tebing yang longsor itu dulu sempat dijual. Pemotongan tanah yang tidak tepat juga dinilai menjadi pemicu longsor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Kota Tangsel juga berencana membangun terasering di lokasi tersebut. Pembangunan itu menunggu hasil kajian yang dilakukan BPPT.
"Saya sudah minta bikin kajian. Nanti kita akan bikin terasering di daerah yang berdekatan. Kajian kita harapkan 1 atau 2 bulan selesai," ujarnya.
Seorang warga setempat bernama Sopi (38) bercerita, tanah longsor pada Selasa (9/5) pukul 20.00 WIB itu terjadi dengan cepat. Sebelum longsor, sebagian tanah sudah mulai turun.
"Kejadian pukul 20.00 WIB, bertahap dari siang pukul 12.00 WIB mulai turun. Malam langsung saja bunyi cepat banget, trek... trek..., langsung ambles sekaligus. Bunyinya kencang banget," ujarnya.
Mendengar suara itu, Sopi langsung bergegas mendatangi lokasi. Warga lain juga berbondong-bondong mendekati sumber suara.
"Orang pada lari ke sini semua. Saya mau lihat, tapi nggak kelihatan, dengar-dengar gitu aja," tuturnya.
Meski 5 rumah hancur akibat longsor, tak ada korban jiwa dan luka akibat peristiwa itu. Warga setempat sudah lebih dulu mengevakuasi diri dan barang-barang mereka sebelum kejadian.
"Alhamdulillah nggak ada korban. Rumah sudah dikosongkan semua. Yang ambles itu, dari pagi sampai siang sudah dikeluarkan duluan," katanya. (idh/idh)











































