Putusan Sidang Penistaan Agama dan Rangkaian Aksi Bela Islam

Putusan Sidang Penistaan Agama dan Rangkaian Aksi Bela Islam

Indah Mutiara Kami - detikNews
Selasa, 09 Mei 2017 06:28 WIB
Putusan Sidang Penistaan Agama dan Rangkaian Aksi Bela Islam
Ahok saat jalani persidangan pekan lalu (Foto: Agung Pambudhy-detikcom)
Jakarta - Terdakwa dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hari ini akan menghadapi ketok palu hakim. Berjalannya kasus ini dari pelaporan hingga sidang secara paralel diwarnai rangkaian demonstrasi yang menuntut Ahok untuk dihukum.

Demonstrasi yang dinamakan 'Aksi Bela Islam' ini dilakukan karena massa tidak terima dengan ucapan Ahok terkait surat al-Maidah 51 yang diucapkan ketika berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Berbagai kelompok massa kemudian melaporkan Ahok ke polisi hingga kemudian kasusnya diusut oleh Bareskrim Polri.

Setelah pelaporan, aksi Bela Islam pertama kali digelar pada 14 Oktober 2016. Tak hanya sekali, aksi dengan tuntutan serupa dengan jumlah massa yang semakin banyak. Berikutnya, aksi dinamakan lewat tanggal penyelenggaraan. Hingga pada 5 Mei 2017 lalu, aksi Bela Islam diakhiri dan aksi 55 dinyatakan sebagai aksi terakhir terkait kasus Ahok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut rangkaian aksi selama kasus Ahok bergulir hingga menjelang putusan, Selasa (9/5/2017):

Aksi 14 Oktober 2016

Foto: Lamhot Aritonang
Aksi Bela Islam pertama kali diadakan pada Jumat (14/10/2016), tepatnya setelah salat Jumat. Massa berkumpul di Masjid Istiqlal dan kemudian bergerak menuju kantor Bareskrim Polri yang sementara berada di Kementerian KKP, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Saat itu, Jalan Medan Merdeka 'memutih' karena dipenuhi peserta aksi.

Perwakilan massa kemudian diterima oleh Kabareskrim saat itu, Komjen Ari Dono. Usai pertemuan, Ari Dono lalu naik ke mobil komando dan berjanji Bareskrim akan memeriksa Ahok.

Imam besar FPI, Habib Rizieq Syihab dan mantan Ketua MPR, Amien Rais hadir di tengah-tengah massa aksi. Dari Bareskrim, mereka kemudian beranjak ke Balai Kota dan sempat salah Asar berjamaah.

Pada sekitar pukul 16.30 WIB, massa mulai membubarkan diri dengan tertib.

Aksi 411

Aksi 411/ Foto: Danu Damarjati/detikcom
Aksi Bela Islam jilid II digelar pada Jumat, 4 November 2016 sehingga disebut sebagai aksi 411. Pesertanya lebih banyak dan juga melibatkan massa dari luar Jakarta. Sejak malam sebelumnya, massa peserta aksi ada yang sudah menginap di sejumlah masjid.

Massa yang sudah ada di Masjid Istiqlal menjalankan salat subuh berjamaah. Semakin pagi, massa makin banyak yang datang ke Masjid Istiqlal. Aksi 411 dihadiri oleh sejumlah tokoh, mulai dari Habib Rizieq, Amien Rais, Ahmad Dhani, hingga pimpinan DPR yaitu Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Pada siang hari sekitar pukul 14.00 WIB, massa dari berbagai penjuru sudah mengarah ke istana hingga 'memutihkan' kawasan Patung Kuda. Massa bergerak dari empat sisi yakni Bundaran HI, Jl Budi Kemuliaan, arah Istana dan juga padat di wilayah Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan.

Menjelang sore, perwakilan massa diterima di istana. Namun mereka belum puas karena hanya diterima oleh Wiranto dan para menteri, bukan oleh Presiden Joko Widodo. Mereka akhirnya meninggalkan istana.

Di depan istana, massa berbendera HMI beberapa kali melempar botol air minum ke arah polisi dan menarik kawat berduri. Habib Rizieq lalu menenangkan massa agar tidak terprovokasi.

Perwakilan pendemo akhirnya diterima oleh Wapres Jusuf Kalla dan para menteri. Usai pertemuan, JK menyampaikan bahwa ada kesepakatan kasus Ahok akan selesai dalam 2 pekan.

Setelah maghrib, suasana di depan Istana memanas. Massa beratribut HMI menendangi tameng polisi kemudian polisi melepaskan gas air mata. Massa FPI lalu membuat pagar betis yang memisahkan massa beratribut HMI dengan polisi. Di tengah ricuh, ada dua unit truk polisi yang dibakar oleh massa. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian datang ke lokasi ricuh dan menenangkan massa. Wiranto juga sempat mendatangi lokasi dan meminta massa bubar.

Presiden Jokowi lalu mendadak mengadakan rapat terbatas. Dia lalu menyampaikan keterangan pers yang isinya menyesalkan kejadian setelah Isya yang berujung ricuh padahal awalnya sudah berjalan damai. Jokowi menyebut aksi itu ditunggangi aktor politik.

Massa kemudian beranjak ke depan gedung DPR dan hendak menginap. Ketua MPR Zulkifli Hasan menerima perwakilan pendemo, ada juga anggota Komisi III DPR. Setelah negosiasi, akhirnya pendemo mau pulang.

Aksi 212

Aksi 212/ Foto: Bisma Alief/detikcom
Pada Jumat, 2 Desember 2016, massa kembali menggelar aksi Bela Islam yang dipusatkan di Monas. Peserta aksi salat Jumat dan zikir bersama.

Pagi harinya, polisi menangkap sejumlah tokoh yaitu Rachmawati, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Kivlan Zein, Sri Bintang Pamungkas, Adityawarman, Jamran, Eko, dan Rizal Kobar. Belakangan, polisi menyatakan mereka ada yang dikenai pasal makar dan pasal di UU ITE.

Kembali ke aksi 212, pejabat-pejabat pemerintah ikut menghadiri aksi ini, mulai dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Wakapolri Komjen Syafruddin, hingga Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan. Di atas panggung, Tito yang duduk berdampingan dengan Habib Rizieq menyatakan bahwa proses hukum Ahok terus berjalan.

Massa mengikuti aksi 212 dengan tertib. Mereka duduk khusyuk berzikir dipimpin Ustaz Arifin Ilham dan tidak duduk di rumput. Monas saat itu 'memutih' diisi lautan massa. Peserta aksi juga meluber hingga ke Patung Kuda dan Jalan Medan Merdeka Timur.

Presiden Jokowi lalu memutuskan untuk salat Jumat beserta peserta aksi 212. Dia memegang payung sendiri dan menembus hujan dengan berjalan kaki dari istana ke Monas bersama Wapres JK. Sesaat sebelum azan salat Jumat berkumandang, Presiden Jokowi tiba dan massa berdiri lalu menyerukan takbir. Habib Rizieq menjadi khatib salat Jumat.

Usai salat, Jokowi menyapa massa aksi 212 dari atas panggung. Dia mengapresiasi jalannya aksi 212 yang tertib dan berterima kasih atas doa dan zikir untuk negara.

Setelah Jokowi meninggalkan Monas, massa aksi juga bubar dengan tertib.

Aksi 112

Aksi 112/ Foto: Lamhot Aritonang
Aksi Bela Islam kembali digelar pada Sabtu, 11 Februari 2017 yang dipusatkan di Masjid Istiqlal. Aksi ini dihadiri oleh peserta Pilgub DKI 2017 yaitu Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Agus Yudhoyono, dan Sylviana Murni.

Arifin Ilham berceramah usai salat Subuh dan memimpin zikir yang diikuti oleh jemaah. Habib Rizieq lalu merapat ke Istiqlal pada pagi hari. Peserta aksi 112 meluber hingga ke luar masjid. Meski diguyur gerimis, massa 112 tetap bertahan di depan Gambir.

Amien Rais dan Bachtiar Nasir sempat berceramah saat aksi 112. Rangkaian acara digelar hingga salat Zuhur. Massa kemudian meninggalkan Istiqlal dengan tertib sambil memungut sampah.

Aksi 212 Jilid II

Aksi 212 Jilid II/ Foto: Lamhot Aritonang
Aksi Bela Islam yang kelima digelar pada Selasa, 21 Februari 2017 dan disebut aksi 212 jilid II. Aksi yang digelar bersamaan dengan sidang Ahok itu dipusatkan di depan Gedung MPR/DPR.

Hujan tidak menyurutkan semangat peserta aksi. Habib Rizieq saat itu juga mendampingi peserta aksi 212 jilid II.

Saat itu, di DPR sedang bergulir wacana angket terhadap pemerintah yang dinamakan 'Ahok Gate' karena status Ahok yang tidak dinonaktifkan meski statusnya telah menjadi terdakwa kasus penistaan agama. Komisi III DPR saat itu menerima perwakilan FUI. Usai rapat, Komisi III bersama perwakilan massa langsung bergegas menemui massa di depan gedung DPR.

Peserta aksi 212 jilid II ini 'memutihkan' jalan di depan DPR. Usai ditemui perwakilan Komisi III DPR, mereka kemudian membubarkan diri dengan tertib.

Aksi 313

Aksi 313/ Foto: Rengga Sancaya
Pada 31 Maret 2017, massa menggelar aksi 313 yang menuntut Ahok dinonaktifkan dari posisi Gubernur DKI Jakarta karena sudah berstatus terdakwa. Massa ini diinisiasi salah satunya oleh Forum Umat Islam (FUI).

Pagi harinya, Polda Metro menangkap 5 orang terkait makar yang salah satunya adalah Sekjen FUI Al-Khaththath. Polisi menyatakan penangkapan itu tidak terkait aksi 313.

Meski Sekjen FUI ditangkap, massa terus berdatangan ke Masjid Istiqlal. Usai salat Jumat, massa aksi bergerak dari Masjid Istiqlal ke Patung Kuda. Menko Polhukam Wiranto kemudian menerima perwakilan massa aksi 313. Mereka didampingi juga oleh Amien Rais.

Salah satu tuntutan massa adalah agar Sekjen FUI dibebaskan. Mereka merasa aksi 313 dengan penangkapan Sekjen FUI tersebut. Soal status Ahok, Wiranto saat itu mengatakan bahwa pemerintah sudah meminta fatwa MA.

Usai perwakilan diterima oleh Wiranto, massa kemudian kembali ke Masjid Istiqlal. Mereka menunaikan salat Maghrib kemudian membubarkan diri.

Aksi 5 Mei 2017

Aksi 55/ Foto: Hasan Al Habshy
Aksi yang terakhir dan menjadi aksi pamungkas terkait Ahok adalah pada 5 Mei 2017 lalu. Aksi digelar untuk meminta MA mengawasi majelis hakim sidang Ahok dan meminta majelis hakim memutus Ahok bersalah melakukan penodaan agama.

Massa aksi berkumpul di Masjid Istiqlal sejak pagi. Habib Rizieq absen karena sedang umrah, dia kemudian menyapa peserta aksi lewat telepon. Sementara itu, ada Aa Gym yang hadir di Istiqlal dan meminta peserta untuk selalu tersenyum.

Massa aksi bertahan di Istiqlal dan ada perwakilan yang menuju ke Mahkamah Agung (MA) untuk menyampaikan tuntutan soal vonis Ahok. Sebagian massa lalu ada yang ikut ke MA dan tertahan di depan Kemendagri. Sambil menunggu utusan keluar dari MA, Bachtiar Nasir dan Amien Rais berorasi.

Usai bertemu perwakilan MA, utusan aksi 55 menyampaikan bahwa MA menjamin hakim sidang Ahok tidak bisa diintervensi. Massa kemudian kembali ke Masjid Istiqlal.

Waketum Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF MUI) Zaitun Rasmin menyatakan aksi 55 merupakan aksi terakhir terkait Ahok. Setelah aksi 55, massa kemudian menanti vonis hakim terhadap Ahok yang akan diketok hari ini.
Halaman 2 dari 8
(imk/rvk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads