"Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami. Ini bukanlah ritual tahunan, yang terjadi kerusuhan di sejumlah kota besar saat itu, tapi ini juga ruang proses pemulihan korban serta pemulihan rekonsiliasi komunitas korban," kata Azriana saat sambutan di TPU Pondok Ranggon, Blad 27, Blok AA1, Jalan Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (8/5/2017).
Azriana mengatakan acara ini mengambil tema 'Mewujudkan Pemerintah yang Ingat, Hormat, dan Adil terhadap Sejarah'. Menurutnya, sebagai warga negara yang baik, peran mengingat sejarah sangat diperlukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita berada di samping makam korban, setiap nisan diberi nama 'Korban Tragedi Mei 98'. Makam tersebut berisi kerangka korban yang terbakar di sejumlah tempat di Jakarta, sebagian besar mereka masih remaja," imbuhnya.
Azriana juga menyebut peristiwa tersebut meninggalkan duka yang berkepanjangan. Banyak peristiwa kekerasan seksual yang terjadi pada wanita etnis Tionghoa.
"Tewasnya para korban ini meninggalkan duka yang berkepanjangan, penyangkalan publik terhadap Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tentang kekerasan seksual terhadap 85 wanita etnis Tionghoa bukan hanya mengingkari rasa keadilan korban, tapi juga ancaman ini digunakan sebagai cara yang ingar-bingar di pilkada DKI Jakarta," jelasnya.
"Selain ancaman pemerkosaan terhadap warga etnis Tionghoa, Mei 98 menyisakan luka yang mendalam," sambungnya.
Azriana mengatakan pihaknya mendesak pemerintah menyelesaikan kasus ini demi memenuhi rasa keadilan korban. Ia juga mengatakan memorialisasi seperti ini didapatkan sejak Joko Widodo menjabat Gubernur DKI Jakarta.
"Kami mendesak, mengingatkan, pemerintah menyelesaikan kasus-kasus untuk memenuhi rasa keadilan korban. Untuk itu pula, kami memberi tema pada peringatan Tragedi Mei 98 tahun ini, memorialisasi kami dapatkan dari Bapak Jokowi. Kami berharap inisiatif dapat dikembangkan menjadi bagian nasional, baik itu Tragedi Mei 98 atau tragedi lainnya," ucapnya.
"Kami juga sampaikan apresiasi kepada pemerintah, dan pemulihan bagi komunitas korban, pembebasan retribusi makam, dan pemberdayaan ekonomi bagi keluarga korban," tutupnya.
Dalam acara ini turut hadir presiden ke-3 RI BJ Habibie, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, ibu dan bapak keluarga korban Tragedi Mei 98, lembaga pendamping, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), serta Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. (imk/erd)











































