Zainuddin Masih di Atas Angin

Dari Muktamar I PBR

Zainuddin Masih di Atas Angin

- detikNews
Rabu, 27 Apr 2005 12:03 WIB
Jakarta - Meski dihadang tiga kandidat ketum lainnya, kans Zainuddin MZ memimpin kembali PBR masih terbuka lebar. Di hari kedua muktamar, namanya makin di atas angin.Dukungan kepada pendiri PBR ini terus berdatangan, antara lain dari DPW Sumut."Saya tidak melihat kans. Saya lihat Zainuddin sebagai kemutlakan untuk PBR," kata Ketua DPW Sumut H Raden Muhammad Syafii disela Muktamar I PBR di Hotel Sahid, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Rabu, (27/4/2005).Zainuddin yang terkenal dengan julukan kiai sejuta umat itu, lanjut Syafii, harus tetap memimpin PBR jika partai ini ingin eksis sampai lima tahun ke depan.Tim kerja yang baik diakui Syafii memang sesuatu yang dibutuhkan, tapi figur kharismatik Zainuddin belum bisa diabaikan. "Kita tidak bisa jika PBR tidak dipimpin Zainuddin MZ," tegasnya.Dia juga mengungkapkan, dari empat calon ketum yang akan bertarung, kans Zainuddin-lah yang paling besar karena peluangnya mencapai 75 persen. Sedangkan tiga kandidat lainnya harus memperebutkan 25 persen suara yang tersisa.Hal senada juga disampaikan anggota PBR lainnya, Hamdani Hamid. Menurutnya, 80 persen peserta Muktamar I PBR masih menginginkan sang kiai. "Dari aspirasi yang ada, 80 persen peserta menghendaki Pak Kiai memimpin kembali PBR," ungkapnya.Tiga kandidat lain yang akan maju dalam pemilihan ketum PBR adalah Djafar Badjeber, Zaenal Ma'arif dan Ade Daud Nasution. Ketiganya termasuk calon yang potensial, karena Djafar kini menjabat sekjen PBR.Sedangkan Ma'arif adalah ketua DPP PBR dan Ade Daud, kader PBR yang duduk di DPR dan seorang pengusaha. Saat ini Muktamar I PBR tengah menggelar laporan pertanggungjawaban DPP yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB.Rencananya, setelah laporan pertanggungjawaban ini, acara akan dilanjutkan dengan pemandangan umum dari DPW-DPW. Muktamar diikuti 1.500 peserta dari 435 DPC dan 33 DPW.Mengenai tata cara pemilihan ketum, Hamid mengatakan, kemungkinan akan ditempuh pemilihan langsung, sehingga sistem formatur kemungkinan akan ditinggalkan."Ini karena 90 persen peserta menghendaki pemilihan secara langsung. Bakal dilakukan pemilihan satu delegasi satu suara," katanya. (umi/)


Berita Terkait