DetikNews
Senin 08 Mei 2017, 14:56 WIB

Tapal Batas

Mengenal Miangas, Tapal Batas di Ujung Utara Indonesia

Danu Damarjati - detikNews
Mengenal Miangas, Tapal Batas di Ujung Utara Indonesia Foto: Repro dari Google Maps
Jakarta - Bila kita membuka Google Maps, Pulau Miangas memang terlihat dekat sekali dengan Pulau Mindanao, Filipina, dan agak jauh dari ujung utara Pulau Sulawesi, Indonesia. Inilah daerah terdepan Indonesia di bagian utara.

Berdasarkan direktori pulau-pulau kecil Indonesia Kementerian Kelautan dan Perikanan, pulau ikonik di Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, ini memiliki luas 3,2 km persegi. Namun, menurut data Badan Pusat Statistik, hanya perlu dua jam untuk berkeliling pulau ini. Jarak Pulau Miangas ke ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, yakni Melonguane, sejauh sekitar 60 mil laut, sedangkan jarak ke Manado sejauh 274 mil laut.

Peneliti bidang perkembangan politik internasional Sandy Nur Ikfal Raharjo, dalam tulisannya, 'Menilik Perbatasan Indonesia-Filipina: Pulau Miangas', menjelaskan perjalanan Miangas ke Davao, Filipina, bisa ditempuh hanya dalam waktu tiga jam memakai kapal nelayan tradisional. Sedangkan waktu tempuh yang diperlukan untuk perjalanan dari Miangas ke ibu kota Talaud, Melonguane, bisa sehari semalam.

Presiden Jokowi mencuci muka di pantai di MiangasPresiden Jokowi mencuci muka di pantai di Miangas (Fotografer Kepresidenan Agus Suparto)

Bila menengok ke belakang, Miangas bahkan pernah menjadi bagian dari Filipina. Waktu itu Republik Indonesia memang belum terbentuk. Yang ada adalah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di Filipina dulu, Miangas dikenal dengan nama Pulau Palmas. Belanda mengajukan masalah Miangas ke Mahkamah Arbitrase Internasional.

Setelah Perjanjian Paris 1898, Spanyol menyerahkan Filipina ke Amerika Serikat (AS). Menurut AS, Pulau Palmas itu telah ditemukan dan dikuasai oleh Spanyol. Namun, menurut pihak Belanda yang menguasai kepulauan Nusantara, tak ada bukti bahwa Spanyol pernah menguasai Pulau Miangas. Bahkan Raja Sangir pada era VOC tahun 1648 mendukung peneguhan teritori Belanda, termasuk di Miangas.

Hakim Max Huber, pada 4 April 1928, memutuskan Miangas menjadi milik Hindia Belanda. Zaman berganti, Indonesia merdeka dan Belanda angkat kaki, Miangas otomatis masuk teritori Indonesia. Begitulah cerita dari masa lalu. Kini Miangas memasuki era modern.

Pernah ada insiden pengibaran bendera Filipina di Miangas pada 2005. Sejurus kemudian, merebaklah isu-isu soal penggunaan mata uang peso dan penggunaan bahasa-bahasa asal Filipina di Miangas. Namun rumor tersebut juga belum dipastikan kebenarannya. Bahkan di Google Maps, Miangas pernah dimasukkan sebagai wilayah Filipina. Namun, ketika detikcom mengeceknya pada 4 Mei 2017, Miangas telah dikategorikan masuk wilayah Indonesia.

Presiden Jokowi meresmikan Bandar Udara MiangasPresiden Jokowi meresmikan Bandar Udara Miangas. (dok Kementerian Perhubungan)

Kini Pemerintah Republik Indonesia tengah berusaha menunaikan kewajibannya untuk daerah terdepan ini. Tekad 'membangun dari pinggiran' sebagaimana tercantum dalam prinsip Nawacita Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla diwujudkan dalam pendirian bandara di sini. Bandara Miangas, proyek Rp 320 miliar, telah rampung dan diresmikan Jokowi pada 19 Oktober 2016. Jokowi merupakan Presiden Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di pulau yang dihuni suku Talaud ini. Dia bahkan membasuh wajahnya dengan air laut Miangas.

Adanya bandara ini membuat masyarakat yang tinggal di Pulau Miangas memiliki alternatif transportasi ke kawasan lain ke Indonesia. Masyarakat berharap tak lagi merasa seperti penduduk yang diasingkan.

Penjagaan pulau dan perairan di sekitar Miangas ini tentu penting bagi Indonesia. Sering nelayan-nelayan Filipina memasuki teritori ini. Sebagaimana diberitakan detikcom, pada 7 dan 12 Oktober 2016, ada empat kapal yang ditangkap di perairan Miangas. Jumlah anak buah kapal (ABK) itu sebanyak 30 orang, yang diduga warga negara Filipina. PPNS Perikanan mendalami adanya kemungkinan ABK asal Filipina itu mengantongi KTP Indonesia. Kecurigaan ini bukan tanpa dasar pengalaman. Soalnya, pada September, kasus seperti ini terjadi.

Ada 46 personel TNI di kawasan ini. Miangas adalah kawasan terdepan yang dianggap Indonesia perlu dijaga secara intensif. Pulau ini masih asri dan indah. Di perairannya, ditemukan berbagai jenis ikan laut, seperti ikan layar, cakalang, ikan kulit pasir, lobster, teripang, dan ikan laut dalam. Ada pula ketam kenari, yakni sejenis kepiting kelapa, berharga lebih mahal daripada lobster.

Nelayan Miangas memperingati Hari Kebangkitan NasionalNelayan Miangas memperingati Hari Kebangkitan Nasional. (Hasan Alhabshy/detikcom)

Penduduk di sini kadang masih harus membayar barang kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih mahal. Bahan bakar minyak (BBM) di sini bisa mencapai Rp 20-30 ribu per liter. Pertamina harus hadir di seluruh Nusantara, termasuk Pulau Miangas, untuk menjamin pasokan BBM dengan harga yang terjangkau. Sesuai dengan perintah Jokowi, kalau harga Premium dan solar di Jawa Rp 6.450/liter dan Rp 5.150/liter, warga di pelosok juga harus bisa membeli dengan harga yang sama.

Transportasi tentu perlu dibangun dan dikuatkan untuk mengikat rasa nasionalisme kawasan terdepan. Selain Bandara Miangas, yang baru dibangun, sebelumnya telah ada transportasi laut berupa tiga kapal, yang terdiri dari dua kapal perintis dengan jadwal layar ke Miangas dua kali sebulan, plus satu kapal Sangiang milik Pelni, yang dua kali sebulan ke Miangas.

Menurut BPS, penduduk Miangas pada 2015 sebanyak 775 jiwa. Dari 315 penduduk yang bekerja, sebanyak 41 persen bermata pencarian nelayan. Sebanyak 27 persen penduduk bekerja sebagai petani.
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed