"Potensi ekonomi baik. Dia (Tual) ini tempat perjumpaan dari timur dan barat. Oleh karenanya udara dan laut kita harus pikirkan efektivitas fungsi," tutur Budi usai melakukan peninjauan di Langgur, Tual, Maluku, Minggu (7/5/2017).
Budi punya cara untuk meningkatkan fungsi pelabuhan. Dia ingin menjadikan Pelabuhan Tual sebagai pelabuhan kelas I.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita berusaha melibatkan swasta, kita tawarkan apa Pelindo, apa lain. Bisa aja bertahap, bisa dia sewakan crane atau dia kelola pelabuhan. Kalau swasta, APBN tak mesti ke sini," imbuhnya.
Terakhir, untuk masalah bandara, Budi punya evaluasi. Ke depan, dia ingin Instrument Landing System (ILS) atau instrumen pemandu pendaratan pesawat harus diterapkan di Bandara Karel Satsuitubun Langgur Tual untuk penerbangan malam hari.
"Untuk bandara, kan tadi kita khawatir, terbang malam, ternyata ada dua masalah. Pertama, ada alat control ILS, itu mesti diterapkan. Saya sudah telepon dirut supaya cuaca malam bisa tetap jalan. Lalu hilangkan obstacle di sini," kata Budi.
Menhub Budi: Tual Bisa Jadi Potensi untuk Ekspor Ikan ke Darwin
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebut industri perikanan di Maluku sangat potensial. Budi berjanji akan menjadikan Tual sebagai gerbang ekspor ikan ke luar negeri dengan menghubungkan Tual langsung ke Darwin.
Hal tersebut disampaikannya usai meninjau Pelabuhan Tual, Maluku, Minggu (7/5/2017) malam. Budi ingin hasil laut yang masih segar dapat segera diekspor langsung tanpa transit agar tak mengurangi nilai ekonomi. Dia berkata ada beberapa jenis ikan yang mesti diserahkan ke konsumen langsung agar tak busuk.
"Darwin itu kan potensi ikan, kepiting dan sebagainya. Saya minta ke Bupati untuk bandingkan antara Tual dan Samlauki, dia bisa kumpulkan. Saya akan (kerahkan) Kapal Perintis supaya ikan segar bisa langsung dibawa (ke Darwin). Selama ini, kapal itu dibawa ke Surabaya, udah mati. nggak segar lagi," ujar Budi.
"Ada ikan yang mahal sekali yang butuh waktu pendek ke konsumen. Ada jenis tuna tertentu," sambungnya.
Meski demikian, Budi masih akan meninjau rencana tersebut. Dia juga berjanji akan berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait wacana ini.
"Pertama cek volume kapal dulu. Kalau volume sudah terpenuhi, baru kita tanya ke Darwin, kebutuhan itu ada nggak. Kalau volume banyak, baru kita bikin. Nanti kita koordinasi ke KKP," ucap Budi.
(gbr/dhn)











































