DetikNews
Minggu 07 Mei 2017, 14:19 WIB

Jurnalis Spesialis Perang Bicara Soal Cover Both Sides di Medan Laga

Sudrajat - detikNews
Jurnalis Spesialis Perang Bicara Soal Cover Both Sides di Medan Laga Rauli Virtanen usai mewawancarai Nelson Mandela beberapa pekan setelah bebas dari penjara, 11 Februari 1990.
Jakarta - Menjadi wartawan perang butuh ketahanan fisik dan psikologis di atas rata-rata karena kondisi ekstrem pasti kerap terjadi tanpa terduga. "Sangat memacu adrenalin," tulis koresponden senior dari Finlandia Rauli Virtanen menjawab detikcom melalui surat elektronik, Jumat (5/5/2017).

Meski begitu, menurut Rauli, wartawan di medan perang atau konflik tetap tak boleh mengabaikan aspek keberimbangan. Cover both side tetap menjadi kredo kerja jurnalistik yang tak bisa ditawar. Tapi di era digital justru ada semacam ironi tersendiri karena wartawan di lapangan dituntut membuat laporan justru dengan batas waktu yang kian tak leluasa. "Mereka dituntut untuk melaporkan peristiwa secara cepat, apalagi untuk media online (daring)."

Selama karirnya, Rauli telah mengunjungi 194 negara dan meliput Perang Vietnam, Kamboja, Afghanistan, Yugoslavia, Perang Teluk, hingga jajak pendapat di Timor Timur dan meliput Aceh pasca perundingan damai, Agustus 2005.

Pekan lalu ia datang ke Jakarta dalam rangka peringatan "World Press Freedom Day 2017". Kepala Urusan Politik Kedutaan Besar Finlandia, Pirjo Liisa Heikkila, memfasilitasinya untuk berbagi cerita dan pengalaman sambil makan siang bersama beberapa perwakilan media, termasuk detikcom, di Arts Café, Hotel Raffles, Rabu (3/5/2017).

Saat meliput Perang Vietnam pada pertengahan 1970-an, internet belum dikenal. Karena itu Rauli mengaku dapat membuat laporan dengan lebih leluasa. Melakukan wawancara kepada kedua belah pihak yang bertikai, juga masyarakat yang menjadi korban. Karena itu idealnya media punya dua wartawan di lapangan untuk meliput kedua belah pihak yang berkonflik. "Peliputan satu sisi itu tidak baik."

Tentu semua itu butuh dana yang tak sedikit. Selain juga perlu waktu, pemahaman bahasa serta budaya wilayah konflik sebagai modal utama sebelum meliput. "Idealnya, seperti para pekerja kemanusiaan, para wartawan juga membekali diri dengan pelatihan-pelatihan khusus bagaimana bisa survive dalam kondisi ekstrem," ujarnya.

Rauli Virtanen dalam jamuan makan siang bersama sejumlah wartawan Indonesia, Rabu (3/5/2017). Rauli Virtanen dalam jamuan makan siang bersama sejumlah wartawan Indonesia, Rabu (3/5/2017). Foto: Virtanen/Istimewa
Hal lain yang tak kalah penting, kata lelaki kelahiran 1948 yang masih tampil enerjik itu, sebagai bagian dari keberimbangan jangan melupakan peliputan upaya rehabilitasi pascakonflik.

***

Rauli Virtanen mengaku pilihannya untuk berkarir sebagai wartawan lebih dimotivasi oleh obsesinya untuk bisa berkeliling dunia, mengenal dan mempelajari sejarah dan budaya baru. Dari situ dia menjadi terdorong untuk berbagai cerita dan informasi kepada khalayak luas bagi terwujudnya kondisi bumi yang lebih baik.

Ada banyak masalah, tantangan, konflik, perubahan iklim, masalah pengungsi dan lainnya yang perlu diketahui bersama masyarakat dunia. Dari wilayah konflik dan peperangan, kata Rauli, hal yang paling mengusik nuraninya adalah kondisi kaum papa dan mereka yang terpinggirkan.

"Selain itu, dalam situasi yang ekstrem memungkinkan hubungan antar sesama menjadi lebih kuat. Dalam situasi sama-sama terjepit, setiap orang secara naluriah akan saling tolong," paparnya.

Kepuasan bagi seorang wartawan perang bukan cuma bisa melaporkan kondisi yang terjadi kepada masyarakat dunia. Di sisi lain, laporan yang ditulis juga berarti mengabarkan kepada orang-orang tercinta di rumah bahwa kondisi kita baik-baik saja.

Meskipun demikian, Rauli mengakui hal semacam itu tak sepenuhnya bisa mengatasi konflik-konflik yang mungkin muncul dalam kehidupan rumah tangga. Betapapun tentunya tak ada orang tua, isteri, dan anak-anak yang ingin terus-menerus dilanda kecemasan terhadap kondisi suami atau ayahnya.

Rauli mengakui kenyataan itu antara lain yang membuat dirinya harus berpisah dengan Rita Strömmer pada 2.008 setelah menjalin pernikahan sejak 1996. Dari Rita, ia dikaruniai dua anak Alex Virtanen dan Pepe Strömmer. "Berbagi cerita dan pengalaman seperti ini menjadi salah satu terapi yang saya jalani," tulis Rauli.

Selain meliput berbagai konflik dan peperangan di banyak negara, Rauli juga berkesempatan untuk mewawancarai sejumlah tokoh penting seperti Nelson Mandela, Kofi Annan, Muhammad Ali, dan Pelé.

Ketika Nelson Mandela dibebaskan pada 11 Februari 1990 setelah meringkuk dalam penjara rezim apartheid selama 27 tahun, Rauli segera terbang untuk mewawancarainya. "Iya, saya beruntung sekali dapat mewawancarainya langsung beberapa pekan setelah dia keluar dari penjara," tulisnya.

Selama karirnya, Rauli yang juga mengajar di Universitas Tampere pernah meraih berbagai penghargaan, seperit "The National Information Publication Award" pada 1993 dan "The Suomen Kuvalahti journalism award" pada 2001.

Sebelum mengasuh acara "This is Rauli Virtanen reporting" di MTV3, Finlandia, dia menjadi koresponden berbasis di New York dan London. Sejumlah artikelnya pernah menghiasi halaman media terkemuka The Far Eastern Economic Review, The Independent, De Telegraaf, dan The Baltimore Sun.


(jat/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed