Libatkan Psikolog, TNI Evaluasi Penembakan Sesama Prajurit

Libatkan Psikolog, TNI Evaluasi Penembakan Sesama Prajurit

- detikNews
Selasa, 26 Apr 2005 18:40 WIB
Jakarta - Latar belakang insiden penembakan oleh Praka Bachtiar Chaniago terhadap rekannya Lettu (Kav) Sri Tigo Kencono akan dievaluasi Mabes TNI dengan melibatkan Dinas Psikologi.Peluru yang dimuntahkan dari senjata Bachtiar bersarang di tubuh Tigo pada Minggu malam 24 April 2005. Meski sempat dirawat di RSPAD, nyawa Tigo akhirnya melayang pada Senin pagi 25 April 2005. Bachtiar sempat dikabarkan stres karena dimarahi atasannya. Namun kabar itu dibantah TNI."Mabes TNI akan mengevaluasi kejadian tersebut. Evaluasi itu akan melibatkan pihak-pihak Dinas Psikologi untuk mengetahui latar belakang kejadian itu," kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.Hal itu disampaikan dia kepada wartawan usai Rakor Polkam di Kantor Menko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat, Selasa (26/4/2005)."Kita akan evaluasi kenapa sampai itu terjadi, bahwa ada tindakan prajurit seperti itu. Tentu kita tidak melihat semata-mata ada prajurit yang melakukan penembakan. Tetapi kenapa sampai itu terjadi. Itu akan kita evaluasi terus," ujar Tarto.Menurut dia, peristiwa itu menjadi pengalaman bagi TNI untuk menentukan langkah-langkah apa yang bisa diambil untuk mencegah kejadian serupa. Jadi bukan hanya untuk sekadar menangani.Evaluasinya seperti apa? "Ya kita libatkan dari pihak Dinas Psikologi, sejauhmana kejadian itu terjadi. Apakah akibat dari suatu stres yang begitu tinggi, atau ada masalah lain, atau memang orang itu memiliki kelainan, dan kenapa bisa lolos untuk bertugas," urai Tarto.Seyogyanya, lanjut dia, setiap kali ada penugasan harus ada suatu pemeriksaan psikologis terhadap semua prajurit yang ada. Tapi ini memakan biaya juga. Apalagi frekuensi penugasan TNI cukup tinggi, baik yang dikirim ke Aceh, Nias, wilayah perbatasan, dan tugas pengamanan lainnya."Sementara dengan frekuensi penugasan yang tinggi itu dengan anggaran yang terbatas, maka kita tidak bisa maksimal untuk melakukan pemeriksaan psikologis," keluh Tarto.Untuk itu dia menginginkan agar dalam pengamatan aspek sehari-hari, komandan pasukan bisa melihat jika ada prajurit yang sejak awal punya kecenderungan keanehan."Tidak perlu semuanya diperiksa, cukup prajurit yang aneh saja yang diamati oleh komandannya. Sebab kalau semuanya malah bisa-bisa memakan ongkos. Tentunya orang yang seperti itu bisa diidentifikasikan oleh komandannya," tukas Tarto. (sss/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads