Lukman mengatakan pemisahan politik dan agama harus dicermati betul konteksnya. Dalam konteks Indonesia, masyarakat tidak bisa memisahkan diri dalam menjalani kehidupan dengan nilai-nilai keagamaan.
"Maka ini bagian yang menyatu. Kaitannya memisahkan antara agama dengan politik itu konteksnya adalah ekses atau akibat atau dampak dari politik yang negatif itu yang kemudian ikut mempengaruhi kehidupan keagamaan kita. Itu yang ingin dipisahkan," kata Lukman saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inilah yang dikhawatirkan bisa mempengaruhi kehidupan keagamaan. Itulah konteks memisahkan. Jadi yang dipisahkan adalah dampak aktivitas politik dalam keagamaan," katanya.
Menurutnya, masyarakat harus diberi pencerahan lebih jelas soal politik dan agama ini. Khususnya kepada generasi muda.
"Bahwa bagaimanapun juga bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, beragam. Sehingga keragaman itu jangan sampai membuat kita tersekat-sekat. Jangan sampai terpisah-pisah antara satu dengan yang lain. Justru agama harus dijadikan alat yang mampu menyatukan kita semua. Pemahaman keagamaan itu jangan sampai digunakan sebagai faktor yang justru bisa membuat kita terfragmentasi, terpecah belah, tersekat-sekat. Tapi nilai-nilai agama harus dijadikan faktor untuk menyatukan kita. Ini yang saya kira harus dikedepankan," tuturnya. (jor/fdn)











































