PKB: Halim Iskandar akan Solidkan Suara NU di Pilgub Jatim

PKB: Halim Iskandar akan Solidkan Suara NU di Pilgub Jatim

Erwin Dariyanto - detikNews
Kamis, 04 Mei 2017 20:49 WIB
PKB: Halim Iskandar akan Solidkan Suara NU di Pilgub Jatim
Foto: Nathania Riris Michicco/detikcom
Jakarta - Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur baru akan digelar pada 2018. Namun saat ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah mengerahkan seluruh ranting untuk memenangkan calon gubernur yang mereka usung.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB Daniel Johan mengatakan sejauh ini usulan dari DPC se-Jawa Timur mengusulkan nama Abdul Halim Iskandar sebagai bakal cagub. Halim diyakini akan menyolidkan suara dari kalangan Nahdlatul Ulama.

"Pak Halim akan menyolidkan suara NU," kata Daniel saat berbincang dengan detikcom, Kamis (4/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua DPC sudah bergerak, ranting sudah dikerahkan," ujar Daniel.

Selain mengerahkan DPC dan ranting, PKB terus berkomunikasi dengan sejumlah partai politik untuk menjajaki kemungkinan koalisi. Hal ini penting mengingat PKB tak hanya harus menguasai wilayah Tapal Kuda, yakni Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

PKB harus juga menang di wilayah Mataraman, yakni Kediri dan sekitarnya. "Nah, di sinilah koalisi menjadi sangat penting. Sekarang DPW terus menjalin komunikasi untuk koalisi," ucap Daniel.

Sebelumnya peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan suara nahdliyin berpotensi pecah jika ada lebih dari satu kader NU yang maju dalam Pilgub Jatim. Saat ini, kata dia, ada dua nama yang muncul, yakni Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf.

Keduanya memiliki elektabilitas tinggi sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur. Selain itu, ada nama Abdul Halim Iskandar. Khofifah dan Gus Ipul memiliki kekuatan imbang.

Khofifah, yang kini menjadi Menteri Sosial, pernah dua kali maju dalam Pilgub Jatim. Adapun Gus Ipul sudah dua periode menjabat wagub.

"Nah, kalau keduanya maju, tentu suara nahdliyin akan terbelah. Bila ini terjadi, kandidat dari non-nahdliyin bisa menjadi kuda hitam," tutur Arya. (erd/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini