Titik lemah itulah yang bisa dimanfaatkan oleh penantang Ganjar jika ingin memenangi Pilgub Jateng. Hal itu dikatakan pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Andre Rahmanto.
"Sejauh ini masih Ganjar (terkuat), meskipun secara kinerja tidak terlalu istimewa," kata Andre saat berbincang, Kamis (4/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komunikasi yang dibangun cagub penantang incumbent harus lebih merakyat dan dimulai dari daerah sebagai antitesis Ganjar yang cenderung elitis dan orang pusat," ucap Andre.
Apabila penantang tidak melakukan diferensiasi yang cukup tajam, kata dia, Ganjar akan lebih mudah menang. Ini karena Ganjar memiliki elektabilitas tinggi dan Jawa Tengah menjadi basis PDIP selama ini. "Jika penantang tidak melakukan diferensiasi yang cukup tajam, maka Ganjar akan lebih mudah menang, karena selain popularitasnya tinggi, juga Jateng masih basis PDIP," kata Andre.
Terkait dengan peluang kader PDIP selain Ganjar, Andre menyebut hal itu kecil kemungkinannya. Misalnya kader PDIP yang juga Bupati Kudus, Musthofa. Nama Musthofa tak begitu dekat dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Ada juga Bupati Kudus yang pengen dicalonkan oleh PDIP, ya berat. Karena keputusan dari DPP tergantung Bu Mega," ujar Andre.
Lalu, bagaimana peluang koalisi PKS dan Gerindra yang sukses mengalahkan PDIP di Pilgub DKI?
"Agak berat kalau mengulang sukses (PKS dan Gerindra) di Jakarta," tutur Andre.
Menurut dia, beberapa waktu lalu PKS memang menyebut kader internalnya sebagai bakal cagub Jateng. Bila berkoalisi dengan Gerindra, mungkin saja calon yang diusung PKS bisa cukup kuat.
"Tapi sekali lagi, problemnya ketokohan calon yang diusung (PKS) masih belum cukup dikenal," kata Andre. (erd/imk)











































