Saat itu, JK tengah berada di Karakas, Venezuela, untuk sebuah kunjungan kerja. Melihat yang menghubungi adalah seorang wakil presiden dan tokoh politik yang dihormati, Romi pun mengangkat telepon genggamnya.
Padahal saat itu dia tengah berada di salah satu ruangan di kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo, yang di kalangan elite politik biasa dipanggil dengan '08', menerima duet Anies-Sandi dengan syarat PPP bergabung. Saat JK menelepon Romi, PPP bersama PAN, PKB, dan Demokrat baru saja mencapai kata sepakat untuk mengusung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.
"Sempat sesaat sesudah kita ambil putusan di Cikeas sekitar jam 2 dini hari tanggal 23 September 2016, saya ditelepon Pak JK yang sedang di Karakas, menginfokan bahwa Anies-Sandi bisa diterima oleh 08, asalkan PPP bergabung," kata Romi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (4/5/2017).
Kepada JK, Romi menyampaikan bahwa keputusan sudah diambil oleh PPP, PD, PKB, dan Demokrat. Secara politik, keputusan itu tak mungkin untuk dibatalkan. "Yang saya terima jawaban, Pak JK adalah beliau memahami keputusan itu," tutur Romi.
Dimintai konfirmasi terpisah, Wapres JK menegaskan tidak melakukan intervensi atas pilihan Ketum Gerindra Prabowo Subianto, yang mendukung pencalonan Anies Baswedan saat itu.
"Kalau orang berbicara, memangnya intervensi? Masak saya tidak bisa bicara? Kalau saya bicara sama Anda, intervensi nggak? Nggak kan? Kalau orang berbicara kan boleh saja. Apa salahnya? Semua teman saya," kata JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (4/5). (erd/van)











































