2 Orang Tewas, Polda Sulsel Buru 5 Provokator Rusuh Mamasa
Selasa, 26 Apr 2005 15:54 WIB
Makassar - Untuk kesekian kalinya, api konflik di Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) kembali tersulut. Rusuh pun terjadi. Dua orang tewas. Kini, Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) memburu 5 provokator dalang kerusuhan itu. Hingga Selasa (26/4/2005), situasi Mamasa masih memanas, setelah sebelumnya sempat mereda. Rusuh ini mulai terjadi pada Minggu (24/4/2005). Akibat rusuh, dua warga di Desa Ranu, Kecamatan Mambi tewas. Saat rusuh itu, sebuah rumah dibakar dan menjalari sejumlah rumah lainnya. Dikabarkan, 5 rumah hangus dilalap api. Bahkan salah seorang dari dua orang korban tewas itu disebabkan menjadi korban kebakaran itu. Korban tewas lainnya karena tertusuk di bagian perut. Belum diketahui identitas kedua korban tewas ini. "Dari laporan anggota kami, ada sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya melakukan penyerangan di rumah warga," ujar Kapolda Sulsel, Irjen Pol Saleh Saaf ketika ditemui wartawan di ruangnya, Mapolda Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Selasa (26/4/2005). Hingga kini, Polda Sulsel telah menurunkan 160 orang personel Brimob. Selain itu juga sebanyak 300 orang intel diterjunkan dil okasi. Bahkan 3 orang perwira menegah (Pamen) Polda Sulsel, dikirim langsung ke lokasi. Antara lain Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel Kombes Suherlan, Direskrim Polda Sulsel Kombes Herman Hamid, dan Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Nurman Thahir. Aparat kepolisian masih mengejar lima orang yang diduga provokator dalam kerusuhan itu. Kelima orang ini, berdasarkan pengakuan saksi mata, terlihat melarikan diri saat terjadi kebakaran di Desa Ranu, Kecamatan Mambi. "Namun belum diketahui pelaku pembakaran dari pihak pro atau kontra," ujar Saleh Saaf. Menurut Saleh, kelima orang yang dikejar ini saat dilihat oleh warga tengah membawa senjata sejenis tombak. Saleh menegaskan, peristiwa pembakaran ini adalah salah satu upaya pihak pihak tertentu untuk memanaskan kembali suasana yang sudah kondusif. "Insya Allah, pelaku akan segera tertangkap," ujar Saleh. Konflik di Mamasa terjadi sejak tahun 2003. Konflik ini bermula dari pemekaran Kabupaten Polmas menjadi dua kabupaten. Waktu itu, tiga kecamatan: Aralle, Tabulahan, dan Mambi (ATM) menolak untuk bergabung dalam wilayah Mamasa. Akibat keengganan bergabung ini, maka timbullah pihak pro dan kontra dalam wilayah itu.
(asy/)










































