Manuver di atas Jembatan Ampera sempat menjadi perhatian masyarakat yang melintas, di mana satu unit helikopter terus menyisir tepian Sungai Musi di sekitar Jembatan Ampera. Selain itu, beberapa perahu karet dan kapal patroli Polair ikut serta mencari korban speedboat milik warga yang mengalami kecelakaan.
"Manuver dari tim gabungan ini merupakan tata cara pencarian korban sesuai kesepakatan standard operating procedure (SOP) Basarnas. Jadi saat ada laka di wilayah perairan, personel Polair akan ikut serta membantu pencarian korban," ujar Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto di dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Kamis (4/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simulasi penyelamatan korban (Raja/detikcom) |
Ditambahkan Kapolda, faktor utama terjadinya kecelakaan di wilayah perairan adalah akibat kelalaian warga. Terutama pada malam hari, banyak warga yang mengalami kecelakaan karena tidak menggunakan lampu dan kelengkapan keamanan kapal.
Selain itu, sungai Musi masih menjadi jalur transportasi andalan masyarakat untuk menuju suatu daerah dan sebagai jalur perdagangan. Sehingga aktivitas tidak pernah berhenti meskipun pada malam hari.
"Mobilitas di wilayah perairan Sumsel ini kan sangat tinggi, terutama di aliran Sungai Musi. Bahkan, pada malam hari itu ada kapal yang tidak pakai lampu dan hanya mengandalkan insting saja. Termasuk fasilitas keamanan juga tidak ada, inilah yang menjadikan penyebab utama kecelakaan," Imbuhnya.
Melalui latihan bersama antara Polisi Perairan, TNI AL, dan Basarnas, diyakini dapat terjalin kerja sama yang baik dalam menangani dan merespons cepat kecelakaan yang terjadi, baik di laut maupun perairan Sungai Musi, sehingga mempermudah pencarian korban-korban.
Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto memberikan keterangan pers. (Raja/detikcom) |












































Simulasi penyelamatan korban (Raja/detikcom)
Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto memberikan keterangan pers. (Raja/detikcom)